Middle-Earth: Shadow of War | Rekrut Pasukan dan Tumbangkan Kerajaan Sauron
Middle-Earth: Shadow of War adalah sebuah game garapan Monolith dengan gameplay bergaya campuran seri Batman: Arkham dan Assassin’s Creed. Namun dengan menjamurnya gamefree-roam/sandbox seperti Watch Dogs di generasi console zaman now, apakah Shadow of War bisa memberikan perubahan besar dalam genre ini? Saya rasa tidak. Jadi, apakah game ini jelek? Tentu tidak juga, bahkan game ini epik.
Inovatif, keren, dengan visualisasi yang memesona, tidak heran jika banyak gamer yang jatuh hati dengan apa yang berhasil dilakukan Monolith dengan Shadow of Mordor beberapa tahun yang lalu. Bahwa tidak jatuh pada sebuah “klon” Assassin’s Creed dengan semesta Lord of the Rings yang tentu saja, merupakan kombinasi formula yang sudah pasti sukses, mereka mengimplementasikan sebuah fitur fantastis revolusioner bernama Nemesis System di atasnya. Lewat mekanisme kompleks yang satu ini, pertemuan Anda bersama dengan para orc musuh punya potensi untuk berkembang menjadi cabang cerita kecil yang personal. Bahwa aksi Anda terhadap mereka ataupun sebaliknya, kini punya konsekuensi yang harus dihadapi. Sesuatu yang juga mereka pertahankan di seri se; kuel – Shadow of War.
Shadow of War merupakan penyempurnaan pengalaman Shadow of Mordor, namun kini dihadapkan tidak hanya pada mekanik gameplay baru saja, tetapi juga dunia yang lebih luas. Bahwa tugas Talion kini tidak lagi sekedar menimbulkan kepanikan di Mordor, tetapi meracik pasukan untuk membuatnya setara dan mampu berhadapan dengan Sauron secara seimbang. Nemesis System disempurnakan untuk tidak hanya berlaku pada sosok Talion saja, tetapi juga orc-orc yang ia kuasai.
Plot yang Lurus
Shadow of Mordor membawa kamu ke dalam petualangan lain di dalam dunia The Lord of the Rings, lebih tepatnya Middle-Earth. Sebagai seseorang yang tidak terlalu mengikuti The Lord of the Rings, jujur saya agak takut nantinya kebingungan gara-gara tidak paham cerita dalam game ini. Meskipun game ini mengambil masa cerita setelah The Hobbit dan sebelum The Lord of the Rings, cerita dalam Shadow of Mordor dibentuk secara sangat sederhana sehingga kalau kamu tidak mengikuti ceritanya, kamu juga tidak akan ketinggalan banyak hal.
Kamu akan berperan sebagai Talion, seorang ranger dari Gondor yang menuntut balas atas kematian keluarganya. Talion yang berada dalam misi balas dendamnya tetap dirasuki oleh Celebrimbor – seorang Elf yang ternyata berkontribusi langsung pada terciptanya Ring of Powers yang dimiliki oleh para pemimpin Middle-earth yang kini bertekuk lutut di bawah kendali Sauron. Untuk memastikan mereka punya kesempatan melawan balik, Talion dan Celebrimbor memutuskan untuk menempa sebuah Ring of Power baru yang setara dengan milik Sauron, namun bebas dari pengaruh Dark Lord tersebut.
Namun di tengah proses tersebut, Celebrimbor tiba-tiba diculik oleh Shelob, seorang karakter wanita yang mampu berubah menjadi laba-laba raksasa. Memperlihatkan kekuatannya yang fenomenal, Shelob berhasil memeras Talion untuk menyerahkan Ring of Power baru tersebut untuk ditukarkan dengan “nyawa” Celebrimbor. Tuntutan yang diamini oleh Talion begitu saja. Dengan kekuatan baru tersebut, Shelob yang juga berseberangan dengan Sauron, menggunakannya untuk melihat ke masa depan. Melihat apa yang tengah direncanakan oleh Sauron, melihat takdir Talion yang sebenarnya, hingga mencegah skenario terburuk yang bisa terjadi pada manusia-manusia yang bertahan dari gempuran orc di Minas Ithil. Bagi Talion, penglihatan Shelob adalah “kunci” untuk mengalahkan Sauron.
Perjuangan untuk memastikan Sauron tak kembali mendapatkan kekuatannya tentu bukan pekerjaan yang mudah. Untuk memastikan diri berada dalam posisi yang seimbang, Talion juga mulai menggunakan kekuatan barunya untuk membangun pasukan Orc untuk melawan kembali Sauron. Dengan pengaruh Celebrimbor yang kini menyebut dirinya sebagai Bright Lord – lawan dari Dark Lord aka Sauron, perjalanan ini tentu tidak mudah. Karena tidak hanya Sauron, ada begitu banyak ancaman lain, baik dari para orc “pembangkang” yang bahkan berani membangunkan Balrog untuk mengkhianati Sauron hingga usaha untuk menyelamatkan pasukan-pasukan Gondor yang berakhir tertangkap
Jika diperhatikan, cerita dalam gameini tergolong sederhana. Penggemar seri The Lord of the Rings mungkin juga tidak akan menyukai premis cerita yang ditawarkan game ini karena terlalu lurus. Bahkan, mungkin yang bukan penggemar akan merasakan hal yang sama karena sederhananya cerita dalam game ini. Tapi, jangan khawatir. Karena kalau cerita bukan yang membuat game ini bersinar, maka gameplay dalam Shadow of Mordoryang akan bertindak.
Visualisasi yang "Biasa saja"
Di awal rilisnya, Shadow of Mordor memang terhitung cukup istimewa dari sisi presentasi visual di kala itu. Ada dua alasan utama: pertama karena ia jadi game modern pertama yang memotret pesona Mordor (semesta Lord of the Rings) dengan menggunakan performa platform generasi terkini, dan juga penampakan modifikasi perdana untuk versi Lithtech Engine yang digunakan oleh Monolith. Kesan pertama yang dihasilkan dari dua kombinasi hal ini membuat Shadow of Mordor di kala itu, terasa istimewa. Mengingat visualisasinya tak lebih dari sekedar pembaharuan dan penyempurnaan di sana-sini, hal yang sama, sayangnya tidak terasa di Shadow of War.
Kami tidak menyebutnya sebagai game dengan visualisasi yang buruk. Ia tetap sebuah game yang akan membuat Anda jatuh cinta, terutama lewat desain lingkungan yang kini jauh lebih bervariasi dibandingkan Shadow of Mordor. Bahwa tidak lagi terjebak pada dunia kelam yang dipenuhi lumpur di beragam sudut dengan penampakan Orc yang buruk, Shadow of War kini membagi dunianya ke dalam beberapa varian yang masing-masing punya temanya sendiri. Dari berpetualang dan berperan di Minas Ithil – sebuah kota besar dengan peradaban yang fantastis, hingga daerah bersalju atau hutan lebat yang masing-masing darinya, juga “dipersenjatai” dengan markas besar para Orc yang bisa Anda rebut. Setidaknya dari untuk urusan variasi, Shadow of War memastikan Anda bisa berpetualang dalam skala yang lebih beragam dan besar.
Namun untuk urusan detail, ia memang tidak terlihat istimewa. Siklus siang malam dan juga cuaca yang dinamis untungnya dipertahankan, walaupun tidak memberikan kontribusi yang signifikan dalam permainan. Efek dramatis juga mengalir lewat tata cahaya di beberapa sudut arena permainan yang membuat Anda berakhir menikmati pengalaman yang lebih sinematik. Namun di luar itu, Shadow of War tidak akan berakhir menjadi game yang akan Anda nikmati hanya untuk sekedar kualitas visualisasi yang ada saja. Setidaknya, ia masih tetap jadi cara modern terbaik untuk terjun masuk ke dalam semesta Lord of the Rings yang Anda kenal, walaupun Anda tidak akan berkesempatan untuk menjelajahinya secara bebas mengingat arena permainan yang ada dibagi per region.
Satu yang pasti, presentasi yang ia tawarkan memang setia dengan apa yang Anda harapkan dari sebuah game yang menjadikan “Lord of the Rings” sebagai basis. Para Orc dan Uruk-hai yang Anda temui di sepanjang perjalanan, apalagi dengan sistem Nemesis yang membuat mereka acak, selalu hadir dengan presentasi visual yang unik untuk memperkuat karateristik kepribadian mereka. Bahwa memang, para Uruk-hai yang Anda temui ini, istimewa dan berbeda satu sama lain. Ada yang penuh bekas luka, ada yang mengenakan sebuah helm dengan api berkobar seperti musuh Megaman, hingga yang hadir dengan detail wajah yang manusiawi. Mereka hadir dengan baris percakapan berbeda yang memang cocok dengan situasi yang Anda hadapi dan tentu saja, cukup untuk memperkuat identitas mereka. Ada yang punya aksen keras, ada yang hadir dengan kecenderungan homoseksualitas yang memperlihatkan ketertarikan pada Anda, hingga yang sekedar tuna wicara. Orc dan Uruk-hai ini memang jadi daya tarik tersendiri untuk Shadow of War.
Anda yang senang menangkap beragam screenshot indah juga akan termanjakan dengan Photo Mode miliknya yang tepat sasaran. Dengan sudut dan gerak kamera yang tidak dibatasi, Anda bisa menciptakan beragam momen yang Anda inginkan dengan fitur yang ditawarkan. Kerennya lagi? Tidak seperti filter Photo Mode game lain pada umumnya, ada beragam efek keren yang bisa Anda aplikasikan di sini, yang salah satunya, bahkan membuatnya bisa berakhir menjadi buku mewarnai dengan detail yang pantas diacungi jempol.
Dunia lebih luas dan beragam, varian Orc dan Uruk-hai yang punya identitas lebih kuat, serta efek tata cahaya yang berhasil membuat beberapa sudut permainan menjadi lebih dramatis, presentasi dan daya tarik Shadow of War memang tidak didasarkan hanya pada sekedar detail tekstur dan sejenisnya. Ia lebih mengandalkan kepadatan dan kekuatan konten di dalamnya.
Pengembangan Assassin's Creed dan Batman : Arkham Series yang Lebih Epik
Shadow of Mordor memiliki gameplay campuran seri Batman: Arkham dan Assassin’s Creed. Saya rasa itu adalah penjelasan yang paling konkrit yang bisa saya sampaikan untuk game ini. Kamu bisa bertempur menggunakan sistem pertempuran yang persis seperti dalam seri Batman: Arkham dan menemukan beberapa menara yang bertindak sebagai checkpoint dalam map seperti layaknya melakukan synchronization dalam Assassin’s Creed.
Secara garis besar, pengalaman bermain yang Anda dapatkan di Shadow of War akan terasa mirip dengan apa yang temukan di Shadow of Mordor. Yang berbeda? Alih-alih hanya satu tempat saja, Anda kini akan singgah di beragam tempat berbeda yang masing-masing di dalamnya, tentu akan mengusung varian Orc / Uruk-hai berbeda dari ragam klan, yang masing-masing hadir dengan senjata, tunggangan, dan kelebihan-kelemahan mereka masing-masing. Untuk sistem pertarungan, ia tetap mempertahankan sistem ala Batman Arkham yang memungkinkan Anda menyerang dan melakukan counter-attack secara instan, jika memang dibutuhkan. Tentu saja, strategi ini tidak selamanya efektif. Ada jenis Orc, seperti yang menggunakan tameng misalnya, yang tidak akan bisa Anda serang secara frontal dan butuh melakukan vault untuk membuka pertahanan mereka. Atau yang tipe Berserker dengan dua senjata di tangan yang juga butuh strategi berbeda untuk ditundukkan.
Berita baiknya? Monolith tidak lantas jatuh pada omong kosong cerita untuk menghapus kekuatan Talion dari sebelumnya. Anda tetap akan berperan sebagai Talion yang sudah “matang” dari seri pertama yang tentu saja, mulai menguasai kemampuan yang ditawarkan oleh Celebrimbor. Sebagai gantinya? Monolith membuat kemampuan-kemampuan “super” ini menjadi lebih efektif lagi. Contohnya seperti kemampuan mobilitas lebih efektif berkat kemampuan double-jump milik Talion yang memungkinkannya untuk mencapai area lebih jauh, atau sekedar kemampuan melompat saat memanjat yang memungkinkannya untuk sampai di puncak dengan jauh lebih efektif. Dengan berbasiskan experience points sebagai reward dan sistem level, Anda juga akan mendapatkan skill points untuk dialokasikan di beragam kategori skill untuk membuat Talion semakin ditakuti oleh pasukan Sauron.
Lantas, dengan lebih banyak area baru yang ditawarkan, bagaimana sistem quest bekerja? Seperti halnya formula yang sepertinya sudah diterapkan oleh begitu banyak game open-world yang lain, Anda hanya perlu “mengerjakan” beragam icon yang Anda temukan di peta. Ada icon yang akan bergerak mendorong cerita utama, ada misi sampingan yang bisa Anda selesaikan dengan garis cerita solid dan reward super menggoda, dan ada beragam misi collectibles yang meminta Anda mencari dan menemukan beragam objek yang juga dibarengi dengan penghargaan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Misi-misi ini sendiri bersifat lintas area. Ini berarti, terkadang ada misi sampingan yang baru bisa berlanjut setelah Anda membuka area baru selanjutnya. Sementara setiap darinya juga akan memuat tantangan tersendiri.
Selain berbagai kemampuan Talion yang lebih baik, salah satu fitur baru super keren yang membuat Shadow of War terasa semakin epik adalah kemampuannya untuk menunggangi Drake. Seperti makhluk lainnya, di awal, naga dengan napas api ini akan terus menyerang Anda secara membabi buta. Menyerang mereka dengan panah dan pedang (jika berhasil membuatnya mendarat) hingga jatuh ke status Broken akan memungkinkan Anda untuk menungganginya secara bebas. Drake tidak hanya memungkinkan Anda bergerak cepat dari satu area ke area selanjutnya, tetapi juga punya kemampuan napas api dan serangan proyektil masif yang tentu saja, dengan mudah, akan membuat para Uruk-hai dan Orc kalang kabut. Kerennya lagi? Jika Anda berhasil menyelesaikan salah satu side quest yang ada, Anda akan berkesempatan untuk memanggilnya, kapanpun dan dimanapun.
Namun tentu saja, pada akhirnya seperti halnya Shadow of Mordor, pengalaman Shadow of War juga akan difokuskan pada pertempuran Anda melawan para “Captain” Uruk-hai yang juga mengimplementasikan sistem Nemesis yang serupa di dalamnya. Bertarung menundukkan mereka atau sekedar menyerap mereka menjadi pasukan yang bisa Anda kendalikan (yang akan kita bahas nanti) memang jadi intisari pengalaman yang ada.
Kerennya lagi? Mereka berhasil menyempurnakan sistem yang sudah terhitung cukup baik di Shadow of Mordor, setidaknya di tingkat kesulitan normal. Para Captain ini punya kemampuan beradaptasi yang lebih cepat dan efektif terhadap jenis serangan Anda. Jadi, walaupun masing-masing mereka punya kelemahan yang bisa dieksploitasi, menggunakan strategi serangan yang sama terus-menerus akan membuatnya berakhir tidak efektif. Sebagai contoh? Jika Anda terus menyerang Captain dengan tameng misalnya, dengan melakukan vault dan menyerang mereka dari belakang. Jika hanya gerakan ini saja yang Anda lakukan, si Captain akan belajar, beradaptasi, dan mendorong Anda setiap kali Anda melakukan vault, memaksa Anda untuk mencari strategi yang lain. Fantastis!
Perbedaan dengan Shadow of Mordor
Berbeda dengan Shadow of Mordor, yang terasa seperti perjalanan personal Talion untuk balas dendam, Shadow of War seperti namanya adalah usaha Talion untuk bukan lagi sekedar menundukkan Sauron, tetapi menguasai Mordor. Maka oleh karena itu, menjadi sesuatu yang esensial baginya untuk membangun pasukan Orc dan Uruk Hai miliknya sendiri.
Maka sistem inilah yang jadi kekuatan utama Shadow of War, sekaligus menciptakan sensasi permainan dalam skala yang lebih luas. Kemampuan untuk mendominasi dan menjadikan Uruk-hai yang lain sebagai companion Anda memang sudah ditawarkan di seri pertama. Namun kali ini, mereka mengimplementasikan sistem lebih besar dan kompleks untuk membuatnya menjadi lebih penting dari aspek gameplay. Bahwa tidak lagi sekedar untuk bersenang-senang, Anda bisa melakukannya untuk membuat progress permainan Anda lebih mudah.
Menguasai Fortress adalah konsep “perang” yang dikobarkan oleh Shadow of War. Bahwa untuk memastikan Anda bisa menguasai setiap area yang ada, Anda harus membangun pasukan Uruk-Hai Anda terlebih dahulu. Para Captain ini bisa Anda bunuh untuk reward tertentu, atau bisa Anda tarik masuk ke dalam jajaran pasukan Anda untuk berperang atas nama Anda. Kerennya lagi? Anda bisa mengatur dan menginstruksikan beragam perintah berbeda untuk setiap dari mereka. Anda bisa meminta mereka jadi bodyguard Anda, yang akan membantu Anda berperang ketika dipanggil, meminta mereka untuk latihan untuk memperkuat pasukan / menaikkan level mereka, hingga memerintahkannya untuk menyerang Captain yang masih setia dengan Sauron dan menghabisinya. Untuk Captain yang punya hubungan khusus, Anda bisa meminta mereka melakukan Infiltrasi secara diam-diam ke dalam.
Satu yang menarik, adalah fakta bahwa Nemesis System yang menjadi kekuatan utama Shadow of Mordor juga diaplikasikan lebih luas di Shadow of War ini. Bahwa cerita tidak lagi sekedar dibangun antara Talion dan para Uruk-hai lawannya, sistem yang serupa kini juga diaplikasikan antara pasukan Anda dan pasukan Sauron. Walaupun tidak diperintahkan secara aktif, Anda akan bisa menemukan konflik ini secara aktif terjadi. Kerennya lagi? Setiap kali persinggungan tercipta, baik antara sesama pasukan lawan atau antara pasukan Anda melawan pasukan lawan, sebuah icon misi sampingan akan otomatis tercipta di peta. Anda bisa sekedar melewatkan waktu dan membiarkan konflik ini mencapai resolusinya sendiri. Tetapi Anda juga bisa secara aktif ikut terlibat, membantu pasukan Anda untuk selamat. Karena kemenangan, bisa berakhir dengan peningkatan level Captain bawahan Anda utnuk membuatnya lebih kuat.
Ending yang Sangat Buruk
Pernakah Anda memainkan sebuah game yang menyenangkan dari awal hingga hampir akhir, dan justru dihadapkan pada desain gameplay super tolol yang mengubah pengalaman Anda ini 180 derajat? Percaya atau tidak, hal itulah yang terjadi dengan Shadow of War. Satu hal yang juga membuat kami cukup mengerti mengapa ada ketakutan dan kecenderungan menyebutnya sebagai mode yang diciptakan untuk mendorong penjualan Lootbox. Karena sejauh permainan kami, ini memang jadi bagian paling mengecewakan.
Apa yang terjadi? Setelah Anda menyelesaikan garis cerita utama yang ada, Anda akan terjun masuk ke dalam mode baru bernama “The Shadow Wars” yang berfungsi sebagai chapter terpisah. Inti permainan ini? Anda akan diminta untuk mempertahankan Fortress Anda setidaknya 10 kali di beragam region yang ada, melawan pasukan Sauron yang akan semakin kuat dan ganas setiap kali berhasil ditundukkan. Ini berarti, Anda akan bertemu dengan tidak hanya jumlah pasukan yang lebih tinggi dari segi kuantitas, tetapi juga “dipersenjatai” dengan Captain-Captain dengan level yang lebih tinggi. 10 kali bertahan, 10 kali melawan pasukan Sauron yang semakin kuat dari satu region ke region lainnya. Reward yang bisa Anda petik? True ending untuk Shadow of War dan kesimpulan cerita untuk Talion itu sendiri. Maka kasus yang terjadi pada Batman: Arkham Knight, dimana Anda harus menyelesaikan semua puzzle milik Riddler untuk membuka cut-scene terakhir, kembali terjadi di sini.
Lantas, mengapa tolol? Karena mode yang satu ini, meminta Anda melakukan proses grinding habis-habisan hingga pada batas, membeli lootbox dengan uang nyata pun, tidak akan banyak membantu Anda. Karena ingat, pasukan Sauron yang akan menyerang Anda di end-game ini akan punya level tinggi, di antara 35-55. Ketika pertama kali bertahan, Anda akan berhadapan dengan fakta bahwa hampir sebagian besar Captain yang bisa Anda rekrut di satu area, ternyata tidak mengalami perubahan level sama sekali. Ini berarti, ketika berusaha bertahan di region awal misalnya, Anda masih harus berkutat dan hanya bisa “menangkap” Captain dengan level 15-20. Berita buruknya? Perbedaan level signifikan seperti ini akan membuat markas Anda cepat runtuh, bahkan jika Anda sudah mengaplikasikan sistem pertahanan terbaik sekalipun.
Sekarang Anda punya bayangan kenapa End-Game ini berakhir begitu grindy, repetitif, dan tidak menyenangkan. Benar sekali, untuk mempertahankan markas Anda 10 kali di beragam region, ini berarti Anda harus melakukan proses perekrutan kembali dari awal dengan menggunakan satu di antara dua metode tersebut. Mengingat bahwa sistem pertahanan Fortress bisa dikepalai setidaknya tujuh Captain dengan efek berbeda, maka Anda harus mempersiapkan setidaknya tujuh Captain. Ingat, gelombang ini selalu lebih kuat ketika dikalahkan. Jadi ketika kota yang sama diserang untuk kedua kalinya, Captain “baru” Anda yang sebelumnya berada di level 35 dan mampu menundukkan gelombang level 35, berakhir tidak lagi relevan untuk gelombang selanjutnya, karena ia kini harus berhadapan dengan gelombang level 42. Lalu? Ya, Anda harus membuatnya lebih kuat lagi
Kebodohan desain yang ditawarkan Monolith di End-Game sepertinya memang diracik untuk satu hal – menghasilkan data “indah” bahwa banyak gamer di luar sana berakhir menghabiskan waktu “menikmati” Shadow of War dengan jumlah jam gameplay yang menakjubkan. Menyebutnya diracik untuk menjual lootbox juga tidak beralasan, mengingat limitasi terbesar yang harus Anda hadapi sebenarnya adalah proses grinding level Talion untuk memperkuat pasukan Captain yang Anda miliki. Sesuatu yang tidak bisa kami toleransi. Terima kasih pada Youtube yang membuat kami tak perlu melewati proses sampah ini untuk hanya melihat true ending yang ada
Conclusion
Akhir kata, Middle-Earth: Shadow of Mordor adalah sebuah action RPG yang lebih mengutamakan aksi dibandingkan elemen cerita. Game ini berhasil membedakan dirinya dengan game lain menggunakan Nemesis System yang sangat menarik. Meskipun tidak memiliki cerita yang terlalu dalam untuk diikuti, gameplay Shadow of War yang epik walaupun end-gamenya repetitif dan membosankan.