• Middle-Earth Shadow of War

    Jatuhkan Kekuasaan Sauron The Dark Lord dengan membangun kerajaan bersama Bright Lord yang perkasa.

  • Asus Vivobook A44UR-GA031

    Laptop baru besutan Asus dengan body slim namun spesifikasi yang gahar.

  • Asus X550IK

    Laptop Asus gaming jaman now dengan body yang elegan dan spesifikasi yang sangat baik untuk para gamers pemula

  • Assassin Creed Origins

    Babak baru seri permainan legenaris dengan grafis memukau dan gameplay yang seru serta cerita epik

  • God of War 2018

    Petualangan baru Kratos di negeri dewa-dewi nordik

Friday, 20 April 2018

God of War, Petualangan Baru Kratos

God of War,  Petualangan Baru Kratos Menghadapi Dewa-Dewi Nordik


Gamer mana yang tidak pernah mendengar atau mengenal God of War. Game yang dirilis pertama kali pada 2005 ini merajalela Playstation 2, franchise game action yang satu ini memang tumbuh menjadi judul ikonik dengan kualitas yang tidak perlu lagi diragukan. Ketika sebagian game gagal mewujudkan mitologi klasik yang keren ke dalam sebuah cerita epik yang memuaskan, Sony Santa Monica melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Tidak mengherankan jika antisipasi terhadap seri terbarunya begitu kuat.

Sebagai karakter sentral yang telah menghipnotis jutaan gamer di seluruh dunia lewat aksi kerennya dalam menghabisi musuh kuat hingga tingkatan dewa sekalipun, Kratos terus menjadi bahan utama bagi developer Sony Santa Monica untuk menyampaikan jalan cerita dari universe God of War yang sesungguhnya. Inilah salah satu alasan kenapa pihak developer tidak memberikannya perkiraan usia dan menjelaskan kalau dia sudah melalui banyak sekali petualangan epik yang meniggalkan kisah berkesan

Setelah melihat kisah balas dendam melawan ayahnya Zeus di God of War 3, franchise ini akhirnya memasuki masa vakum selama beberapa tahun. Sony Santa Monica resmi mengumumkan seri terbarunya yang hanya berjudul God of War di ajang E3 2016. Berbeda dari ketiga seri sebelumnya, kali ini hampir semua konsep yang ditawarkannya benar-benar dirubah total. Mulai dari tema mitologi Norse, gameplay third person action yang lebih strategis, hingga sosok Kratos yang terlihat jauh lebih tua dan memiliki anak bernama Atreus.

Sony Santa Monica memang menempuh begitu banyak perubahan beresiko dengannya, dari sisi cerita, mitologi, gameplay, hingga sistem kamera. Sebagai gamer yang sempat skeptis di awal, kami menyambut ragam perubahan ini dengan tangan terbuka. Bahwa apa yang ditawarkan Sony Santa Monica di sini bukanlah sekedar usaha untuk merevitalisasi sebuah franchise yang secara mengejutkan, punya kesempatan untuk hidup kembali, tetapi melanjutkan kisah seorang karakter ikonik . Dan sejauh ini, ia mengagumkan.

Sinopsis

God of War terbaru ini bukanlah sebuah seri reboot, melainkan sebuah sekuel langsung dari God of War 3. Kita masih berhadapan dengan sosok Kratos yang selama ini kita kenal, namun mulai menjalani hidup yang berbeda. Ia hidup di Skandinavia, berdiri di bawah mitologi Norse, bersama dengan sebuah keluarga yang bahagia. Namun sayangnya, tragedi sepertinya tidak bisa lepas dari sosok Kratos.

Ia dibuka dengan sebuah fakta yang menyedihkan, bahwa Kratos telah kehilangan istri yang ia cintai, dan Atreus kini tidak lagi punya sosok ibu. Mempersiapkan pemakamannya dengan melalui proses kremasi, wanita yang mereka cintai punya satu permintaan terakhir – untuk menabur abunya di puncak tertinggi Norse. Sebuah perjalanan yang tentu saja, tidak mudah.

Kratos terlebih dahulu harus melatih Atreus yang walaupun sudah memiliki kemampuan berburu dari sang ibu, namun belum cukup tanggap soal ancaman seperti apa yang menunggu mereka. Masih kecil dan tidak stabil, Atreus masih perlu banyak belajar. Kratos pada awalnya melihat bahwa ia harus memberikan waktu lama bagi Atreus untuk tumbuh. Namun situasi tersebut langsung berubah, ketika seorang pria misterius mengetuk pintu mereka. Dari sanalah Kratos tahu dan paham akan satu hal – bahwa tidak ada lagi momen yang lebih tepat untuk memenuhi permintaan istrinya sekaligus memastikan Atreus selamat.

Gameplay
Perubahan terbesar adalah mekanisme gameplaynya. Walaupun terkesan lebih lambat dan membuat Kratos terlihat lemah, ternyata momen dimana dia dapat membantai pasukan musuh dengan brutal justru berhasil dipresentasikan dengan lebih baik di game ini. Tidak lagi menggunakan Blades of Chaos, kali ini Leviathan Axe adalah senjata andalan Kratos yang baru. Menariknya, pergantian senjata ini sama sekali tidak mempengaruhi gaya bertarungnya. Kratos masih dapat melancarkan serangan brutal dan kombo yang dapat menghancurkan pasukan musuh, yang kali ini dapat menjangkau jarak jauh sekalipun berkat kemampuan Leviathan Axe yang dapat dilempar dan dipanggil kembali ke tangan Kratos kapan saja.

Untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, Kratos juga dibekali dengan Guardian Shield yang dapat digunakan sebagai senjata untuk mengalahkan musuh dengan elemen es (tidak bisa dilukai dengan Leviathan Axe karena memiliki elemen yang sama). Sekuat apapun Kratos, dia ternyata masih membutuhkan bantuan Atreus dalam melakukan berbagai tugas penting seperti melemahkan pertahanan musuh, menerjemahkan artifak dan teka-teki yang menggunakan bahasa nordik, serta membuka jalan yang tidak bisa dijangkau oleh Kratos. Seiring berjalannya permainan, kamu akan menyadari kalau Atreus adalah karakter yang bisa diandalkan dan sama sekali tidak menjadi beban seperti yang ditakutkan para fans.

Setiap kali berhadapan dengan pertempuran, kamu harus selalu berfokus untuk melancarkan serangan paling efektif dan memperhatikan pergerakan musuh sekaligus memperhatikan darah. Saat berhadapan dengan pasukan musuh yang kuat dan Kratos mendapatkan ancaman dari berbagai arah, selain memperhatikan indikator panah kamu bisa mendengarkan peringatan dari Atreus mengetahui letak posisi musuh. Sedikit terbawa suasana dan kurang memperhatikan strategi saja akan berakhir dengan gugurnya Kratos, karena selain memiliki pertahanan yang lebih lemah, item untuk memulihkan HP juga terbatas dan hanya bisa didapat dengan memecahkan healing stone. Saat berada dalam situasi terdesak, kamu bisa menggunakan kemampuan Spartan Rage yang membuat Kratos menjadi jauh lebih kuat dan dapat menghancurkan musuh apapun hanya dengan tangan kosong yang membara. Spartan Rage baru dapat digunakan setelah Rage Meter yang berwarna merah terisi penuh.


Setiap kali berhadapan dengan pertempuran, kamu harus selalu berfokus untuk melancarkan serangan paling efektif dan memperhatikan pergerakan musuh. Saat berhadapan dengan pasukan musuh yang kuat dan Kratos mendapatkan ancaman dari berbagai arah, selain memperhatikan indikator panah kamu bisa mendengarkan peringatan dari Atreus mengetahui letak posisi musuh. Sedikit terbawa suasana dan kurang memperhatikan strategi saja akan berakhir dengan gugurnya Kratos, karena selain memiliki pertahanan yang lebih lemah, item untuk memulihkan HP juga terbatas dan hanya bisa didapat dengan memecahkan healing stone. Saat berada dalam situasi terdesak, kamu bisa menggunakan kemampuan Spartan Rage yang membuat Kratos menjadi jauh lebih kuat dan dapat menghancurkan musuh apapun hanya dengan tangan kosong yang membara. Spartan Rage baru dapat digunakan setelah Rage Meter yang berwarna merah terisi penuh.

Sesuai dengan janji Sony Santa Monica, sistem Skill Tree dalam game ini benar-benar lebih kompleks dan memberikan segudang opsi dalam menentukan gaya bermain. Untuk Kratos, dia harus meningkatkan level Leviathan Axe terlebih dahulu sebelum dapat membuka skill baru dengan mengunjungi Blacksmith bernama Brok, atau bisa juga menggunakan bantuan dari saudara kembarnya yang bernama Sindri. Skill tambahan juga bisa didapat dengan menamamkan Runic Stone ke dalam Leviathan Axe. Stone yang bisa kamu dapatkan setelah mengalahkan boss ini juga hadir dengan tiga status boost berbeda (Damage, Frost, Stun), kamu hanya perlu memilih mana yang sekiranya paling efektif. Skill tambahan juga bisa diberikan untuk Atreus, dimana dia bisa menggunakan serangan berskala besar yang memiliki kemampuan untuk memanggil hewan spirit seperti serigala, falcon, gagak, dan lainnya.

Visualisasi

Kualitas grafis yang dimiliki God of War ini sangatlah apik, pencahayaan yang dinamis dan environment yang realistis merupakan poin andalan dari game anyar ini. Dapat dikatakan bahwa God of War dapat memanfaatkan segala potensi yang dimiliki oleh Playstation 4 dan PC untuk membentuk dunia mitologi nordik yang realistis dan hidup. saat pertama kali memainkan game ini, anda akan tekagum-kagum oleh grafiknya yang sangat menyerupai dunia nyata

Kesimpulan 

Game ini merupakan game generasi terbaru yang menghadirkan kualitas grafis yang luar biasa diimbangi dengan gameplay yang tidak akan membuat kalian bosan walaupun bermain selama beberapa jam dikarenakan story dan gameplaynya yang sangat memikat.


System Requirements


Share:

Monday, 16 April 2018

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar




Sejak rilis awalnya sebagai game pengganti seri Prince of Persia di tahun 2008 lalu, Assassin's Creed tumbuh menjadi salah satu franchise yang paling berpengaruh di era game next-gen saat ini. Walaupun banyak gamer yang tidak bisa menerimanya dengan baik di awal, tapi daya tarik baru yang dihadirkannya berhasil menuntun kepopuleran franchise ini.

Seri Assassin's Creed sendiri menceritakan kisah dari beberapa figur seorang pembunuh yang dijuluki Assassin. Misi dari Assassin sendiri adalah untuk menjatuhkan kekuasaan Templar yang menyebar di seluruh dunia. Walaupun kamu bermain sebagai seorang pembunuh, tapi Assassin dalam game ini memiliki motif yang baik demi menjatuhkan upaya keji dari kekuasaan para Templar.

Latar dunia dan karakter juga dihadirkan dalam bentuk memori yang disimpan dalam Animus dan terus turun dari generasi ke generasi. Beberapa seri gamenya juga menghadirkan latar belakang sejarah dan karakter yang memang asli diadaptasi dari dunia nyata. Kamu bahkan juga bisa sedikit belajar sejarah dalam game ini, yang memang merupakan kelebihan terbesar dari franchise ini.


Tapi seiring berjalannya waktu, Ubisoft mulai kehilangan sentuhannya dalam membuat sebuah game Assassin's Creed yang solid.Penyempurnaan mekanik yang dimulai dari seri kedua, cerita dan karakterisasi yang fantastis lewat jalinan cerita Ezio, dan segudang misteri yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikannya sebagai judul yang selalu diantisipasi. Namun keputusan untuk merilisnya sebagai game rilis tahunan memang jadi bumerang yang fatal. Di awal implementasi kebijakan ini, Assassin’s Creed masih terlihat memesona. Namun seiring dengan waktu berjalan, apalagi dengan keharusan untuk menawarkan setting dan timeline sejarah yang berbeda, ia mulai kehilangan daya tarik di beberapa seri terakhir. Untuk mengatasi hal ini, Ubisoft akhirnya memutuskan untuk menambah waktu produksi game selanjutnya yang akhirnya sekarang telah dirilis dengan judul Assassin's Creed Origins.

Sinopsis



Seperti yang sebagian besar kita tahu, Assassin’s Creed Origins memang menjadikan peradaban Mesir sebagai setting utama, dengan beberapa karakter ikonik seperti Cleopatra dan Julius Caesar sebagai motor pendorong cerita. Namun jika harus melihat timeline di sisi historis dunia nyata, menyebut mereka sebagai peradaban “klasik” sepertinya sedikit keliru. Yang dieksplorasi oleh Origins justru adalah peradaban lebih “modern” Mesir dimana beragam pencapaian dilakukan oleh Firaun masa lampau. Mesir sendiri saat ini sudah menjadi ruang peleburan antara beragam bangsa, terutama Yunani dan Romawi.


Anda berperan sebagai seorang pejuang bernama Bayek. Sebuah tragedi menimpanya dan mendorong Bayek untuk menjalankan sebuah misi balas dendam. Anaknya yang ia cintai berakhir tewas di tangan sebuah organisasi rahasia dengan manusia-manusia bertopeng bernama “The Order”. Setiap dari anggota The Order ini datang dengan nama sandi binatang dan identitas yang dirahasiakan. Bayek mulai menyelusuri siapa saja mereka dengan keinginan untuk mencabut nyawa setiap dari mereka. Ia juga dibantu oleh sang istri tercinta – Aya yang kini berdiri di bawah kepimpinan Cleopatra – seorang putri kerajaan yang tahtanya direbut oleh Firaun bernama Ptolemy.

Namun usaha untuk menghancurkan The Order ini justru membuka mata Bayek soal seberapa serius pengaruh mereka di Mesir. Bahwa tidak hanya satu atau dua orang saja, organisasi ini ternyata bermuatkan begitu banyak orang penting yang punya satu misi jelas – menguasai dan mengendalikan Mesir dari belakang layar. Hingga pada tahap, mereka mampu memanipulasi begitu banyak hal untuk menjadikan Ptolemy sebagai Firaun yang justru membuat rakyat Mesir kian sengsara. Sementara di sisi yang lain, Bayek juga harus menjalankan tugasnya sebagai seorang Medjay – seorang pelindung rakyat super bijak yang diandalkan untuk menyelesaikan ragam masalah personal dan sosial yang ada. Misi balas dendam ini berujung menjadi lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan

Gameplay


Ini dia yang menjadi salah satu perubahan terbesar dari Origins. Jika kamu memainkan semua seri Assassin's Creed sebelumnya, beradaptasi dengan gameplay dalam game ini akan cukup sulit dan memakan waktu. Kontrol karakter dan sistem combat benar-benar dirubah, dan memiliki kemiripan dengan seri Dark Souls.

Kamu harus mengunci target dan menghindari serangan sebelum melakukan counter attack, kamu juga bisa berlindung dan melancarkan serangan balasan lewat shield breaker. Walaupun cukup unik, tapi sistem combat-nya menjadi lebih kaku dan kurang fleksibel dibandingkan seri pendahulunya.

Sistem parkour yang menjadi simbol dari franchise ini sayangnya malah terasa semakin kaku. Sejak awal permainan kamu juga tidak bisa melakukan gerakan parkour turun yang lebih cepat. Tapi dengan berbagai macam variasi skill yang kamu pelajari, sistem gameplay dan parkour secara keseluruhan akan terasa semakin kompleks dan berbeda.

Visualisasi

Jika ada satu hal yang tidak pernah gagal dilakukan oleh Assassin’s Creed selama ini adalah membangun sebuah dunia dengan atmosfer yang tepat dan pantas untuk merepresentasikan timeline yang ada. Hal yang sama juga terjadi di Origins. Sebagai sebuah wilayah gurun dengan padang pasir yang dominan, Anda akan menikmati Mesir masa lampau dengan kapasitas yang optimal. Kemampuan Ubisoft untuk meracik dan mereka ulang hidup klasik ini dalam format visual platform generasi saat ini meamng pantas diacungi jempol. Kita tidak sekedar berbicara soal hal teknis seperti tekstur atau efek tata cahaya dramatis yang menyempurnakan hal itu. Namun bagaimana ia mampu meracik sebuah peradaban yang terasa realistis di atasnya.

Walaupun kami tidak punya pengetahuan mendalam soal kehidupan Mesir masa lampau, namun Anda akan bisa melihat keseriusan Ubisoft untuk membangun sebuah dunia yang sepantasnya dari peradaban yang indah ini. Anda bisa melihat bagaimana kota dan desa tumbuh di sekitar Sungai Nil – yang memang jadi sumber kehidupan di tengah gurun. Setiap kota ini hadir dengan arsitektur khasnya sendiri, dari sekedar perkumpulan rumah kecil dengan bentuk unik hingga bangunan megah yang berisikan beragam simbol hingga patung dewa-dewi Mesir dalam ukuran yang masif. Namun di sisi lain, Anda juga akan menemukan wilayah lain yang hidup dari mata pencaharian berbeda. Petani gandum di satu sisi, petani garam di sisi yang lain, dan mereka yang hidup sebagai peracik mumi untuk mereka yang meninggal.

Satu hal yang fantastis dari dunia yang diracik Ubisoft ini adalah keberhasilan untuk tetap membangunnya tidak terpisah dari nilai mistis yang ada, seperti yang seharusnya. Bahwa di peradaban masa lampau dimana tidak ada penjelasan sains untuk banyak fenomena, agama dan kepercayaan memang dilihat sebagai solusi. Di Origins, elemen in ditawarkan apa adanya, menyatu dengan kehidupan masyarakat Mesir itu sendiri. Bayek sendiri misalnya, adalah Medjay yang percaya pada pengaruh dewa-dewi Mesir pada nilai-nilai kehidupan, dari sekedar kesejahteraan hingga keadilan. Bahwa pengaruh mistis tersebut tidak lagi memunculkan beragam upacara religi, tetapi juga meracik sudut pandang untuk beragam masalah yang terjadi sekaligus solusi. Berhadapannya memang membuat Anda seolah terserap ke dalam Mesir masa lampau yang seharusnya.

Desain kota adalah salah satu bagian terbaik dari Assassin’s Creed Origins. Bahwa jelas Ubisoft memang punya data untuk meracik kota-kota yang ada dalam kapasitas yang seharusnya, dan bukan sekedar menerka dan menciptakan sebuah imitasi yang tidak banyak berbeda satu sama lain. Anda bisa bertemu dengan kota seperti Siwa misalnya, terasa seperti kota “standar” yang kecil. Tetapi di sisi lain, ada kota-kota lain seperti Alexandria yang jelas dibangun dengan kebudayaan Romawi sebagai pondasi. Kota-kota yang tinggal di samping Sungai Nil juga punya karakteristik spesifik yang berbeda. Beberapa berfokus mendirikan pelabuhan dengan kota yang mengitarinya, namun ada kota seperti Memphis misalnya yang mengintegrasikan Nil justru di tengah kota, membuat masyarakat yang berpergian harus melewati arusnya yang dangkal untuk bergerak dari sudut ke sudut yang lain. Setiap kota juga punya pendekatan mistis mereka sendiri, dari yang menyembah Dewa Buaya – Sobek hingga yang menyembah banteng yang disucikan. Dunia yang dibangun Ubisoft di Origins benar-benar mengagumkan.

Lalu kita akan berhadapan dengan dunia yang memang serasa punya denyut jantung, dengan masyarakat yang dinamis. Perubahan siang dan malam yang ada memang akan mempengaruhi banyak hal, terutama dari hal kecil seperti keramaian di dalam kota hingga yang lebih besar – seperti perilaku AI penjaga di sebuah markas yang hendak Anda “bereskan”. Seperti halnya padang gurun di dunia nyata, Anda juga akan bertemu dengan badai pasir yang hadir acak, yang akan membuat Anda punya sudut pandang terbatas sekaligus tidak mampu menggunakan Senu, burung andalan untuk proses scouting. Kerennya lagi? Anda terkadang bisa melihat badai pasir ini datang dari kejauhan.

Kesimpulan
Waktu istirahat satu tahun yang ditawarkan Ubisoft untuk tim di balik seri Black Flag ini berhasil menghasilkan sebuah seri Assassin’s Creed yang siap untuk membuat Anda jatuh cinta kembali. Mesir dibangun dengan begitu indah, unik, dan berbeda, menggabungkan tidak hanya padang pasir dan Sungai Nil, tetapi juga peradaban yang terbangun dengan air jernih tersebut sebagai sumber kehidupan. Dunia super luasnya juga kini diisi dengan desain misi sampingan yang lebih baik dengan segudang aktivitas untuk diselesaikan atas nama reward yang menggoda. Bayek dan Aya juga berhasil tampil sebagai karakter yang menarik dan dalam, membuatnya pantas untuk menyandang predikat sebagai sumber dari organisasi Assassin itu sendiri.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir sempurna. Selain fakta bahwa game bisa berakhir terlalu mudah jika level Anda terlalu tinggi atau misi sampingan yang terasa repetitif, kami juga mempertanyakan pacing cerita yang cukup “berantakan” di akhir. Ketika cerita dibangun pelan soal The Order di jam-jam awal permainan yang meminta Anda menyusuri luasnya Mesir, ia justru berakhir diselesaikan dalam format lebih linear yang langsung membuka Anda begitu banyak jawaban misteri, solusi, dan ragam misi untuk menyelesaikannya begitu saja. Hasilnya adalah sebuah cerita yang cukup terasa anti-klimaks di akhir, dan gagal menawarkan sesuatu yang terasa menakjubkan, bertolak belakang dengan cerita-cerita di awal yang penuh dengan rasa amarah, rapuh, dan balas dendam.

Namun di luar kelemahan tersebut, Assassin’s Creed Origins adalah sebuah game Assassin’s Creed yang fantastis, sebuah seri yang cukup untuk membuat Anda yang sempat skeptis untuk jatuh cinta kembali. Jika kualitas seperti ini yang terus ditawarkan di seri-seri masa depan, maka bukan tak mungkin franchise “tahunan” Ubisoft ini akan menemukan masa keemasannya kembali.

System Requirements


Sumber:


Share:

Monday, 19 February 2018

Asus Vivobook A442UR GA031

Asus Vivobook A442UR GA031| Laptop Slim dan Elegan untuk Berbagai Keperluan

Laptop besutan vendor Asal Taiwan yaitu Asus Vivobook A442UR GA031 adalah sebuah laptop yang memiliki spesifikasi tinggi, laptop Asus Vivobook A442UR GA031 ini hadir dengan desain yang elegan dan dibalut dengan casing yang solid.
Tak hanya menawarkan desain yang elegan, seri Asus Vivobook A442UR GA031 ini juga menawarkan kinerja tinggi dengan dukungan prosesor Intel generasi Kaby Lake dengan grafis Nvidia GeForce 930MX. Walaupun agak lawas, namun Nvidia GeForce masih cukup kencang untuk game-game terbaru seperti Grand Theft Auto 5, Assassin's Creed Syndicate, dan lain - lain


Tak lupa,vendor Asus juga telah menyematkan stereo speaker berkualitas tinggi yang telah dikolaborasikan dengan teknologi Asus Sonic Master pada laptop Vivobook A442UR GA031 ini untuk memanjakan penggunanya pada saat menikmati berbagai konten multimedia, baik itu konten audio ataupun berbagai konten video.
Laptop spesifikasi tinggi Asus Vivobook A442UR GA031 mengandalkan layar berukuran 14 inci yang menggunakan teknologi TFT LCD LED backlight dengan resolusi HD 1366 x 768 piksel yang cocok untuk menikmati konten multimedia.Menurut GamingScape, laptop dengan ukuran ini ideal untuk berbagai aktivitas, seperti bermain game dan desain grafis ataupun menonton multimedia denga kualitas HD.

Laptop Asus Vivobook A442UR GA031 ini juga menawarkan performa yang cukup kompetitif di kelas laptop menengah, karena Asus Vivobook A442UR GA031 ini telah ditenagai oleh prosesor Intel Core i7-7500U dari generasi Kaby Lake dual core yang mampu menghasilkan ekselerasi dengan kecepatan standar mencapai 2,7 GHz dan TurboBoost mencapai 3,5 GHz.


Laptop ini diperkuat oleh memori RAM sebesar 4GB DDR4 2133MHz yang dapat di-upgrade sesuai kebutuhan pengguna atau maksimal 16GB. Namun, GamingScape menyarankan agar pembeli yang hendak menggunakan laptop ini untuk bermain game agar menambah RAM sehingga memiliki lebih banyak FPS dalam bermain.

Kemampuan grafis laptop Vivobook A442UR GA031 ini tak bisa dipandang sebelah mata karena telah didukung GPU (Graphics Processing Unit) dari Intel HD Graphics 620 dan ditandemkan dengan Nvidia GeForce GT 930MX. Intel HD Graphics 620 yang mengusung 24 executions unit (EU) dengan kecepatan 300 – 1050MHz yang terintegrasi dengan prosesor.
Intel HD Graphics 620 mengusung 24 EU atau executions unit dengan kecepatan mencapai 300 MHz sampai 1050 MHz yang sudah terintegrasi dengan processor. Sedangkan kartu grafis GeForce GT 930MX mengandalkan 384 shader core yang berteknologi Maxwell dengan kecepatan 928 MHz dan turbo boost 941MHz yang dikolaborasikan dengan 24 TMUs, dan 8 ROPs.


Sisi konektivitas, laptop kelas menengah ini cukup lengkap menurut Laptophia Blog dengan mengandalkan LAN, Bluetooth, WiFi, Port USB 3.0, Port USB 2.0, Port USB Type-C, Port HDMI, DVD-RW drive, dan card reader. Sektor media penyimpanan, Asus Vivobook A442UR GA031 ini dibekali hard disk berkapasitas 1TB dengan kecepatan rotor 5400rpm untuk menampung data pengguna.

Sedangkan pada sektor media penyimpanan, laptop Asus Vivobook A442UR GA031 ini memiliki hardisk berkapasitas sebesar 1000 GB atau setara dengan 1 TB dengan kecepatan rotor mencapai 5400 rpm yang berguna untuk menyimpan berbagai data dan juga file dengan jumlah yang sangat banyak


Kelebihan Asus Vivobook A442UR GA031
  • Spesifikasi tinggi di kelasnya
  •   Harga sangat kompetitif
  •   Desain elegan dengan casing warna emas


Kekurangan Asus Vivobook A442UR GA031
  • Resolusi layar belum HD
  •   RAM default hanya 4GB
  •   Tidak dilengkapi OS Windows pre-installed

Share:

Monday, 5 February 2018

Middle-Earth: Shadow of War | Rekrut Pasukan dan Tumbangkan Kerajaan Sauron

Middle-Earth: Shadow of War | Rekrut Pasukan dan Tumbangkan Kerajaan Sauron


Middle-Earth: Shadow of War adalah sebuah game garapan Monolith dengan gameplay  bergaya campuran seri Batman: Arkham dan Assassin’s Creed. Namun dengan menjamurnya gamefree-roam/sandbox seperti Watch Dogs di generasi console zaman now, apakah Shadow of War bisa memberikan perubahan besar dalam genre ini? Saya rasa tidak. Jadi, apakah game ini jelek? Tentu tidak juga, bahkan game ini epik.


Inovatif, keren, dengan visualisasi yang memesona, tidak heran jika banyak gamer yang jatuh hati dengan apa yang berhasil dilakukan Monolith dengan Shadow of Mordor beberapa tahun yang lalu. Bahwa tidak jatuh pada sebuah “klon” Assassin’s Creed dengan semesta Lord of the Rings yang tentu saja, merupakan kombinasi formula yang sudah pasti sukses, mereka mengimplementasikan sebuah fitur fantastis revolusioner bernama Nemesis System di atasnya. Lewat mekanisme kompleks yang satu ini, pertemuan Anda bersama dengan para orc musuh punya potensi untuk berkembang menjadi cabang cerita kecil yang personal. Bahwa aksi Anda terhadap mereka ataupun sebaliknya, kini punya konsekuensi yang harus dihadapi. Sesuatu yang juga mereka pertahankan di seri se; kuel – Shadow of War.


Shadow of War merupakan penyempurnaan pengalaman Shadow of Mordor, namun kini dihadapkan tidak hanya pada mekanik gameplay baru saja, tetapi juga dunia yang lebih luas. Bahwa tugas Talion kini tidak lagi sekedar menimbulkan kepanikan di Mordor, tetapi meracik pasukan untuk membuatnya setara dan mampu berhadapan dengan Sauron secara seimbang. Nemesis System disempurnakan untuk tidak hanya berlaku pada sosok Talion saja, tetapi juga orc-orc yang ia kuasai.



Plot yang Lurus

Shadow of Mordor membawa kamu ke dalam petualangan lain di dalam dunia The Lord of the Rings, lebih tepatnya Middle-Earth. Sebagai seseorang yang tidak terlalu mengikuti The Lord of the Rings, jujur saya agak takut nantinya kebingungan gara-gara tidak paham cerita dalam game ini. Meskipun game ini mengambil masa cerita setelah The Hobbit dan sebelum The Lord of the Rings, cerita dalam Shadow of Mordor dibentuk secara sangat sederhana sehingga kalau kamu tidak mengikuti ceritanya, kamu juga tidak akan ketinggalan banyak hal.


Kamu akan berperan sebagai Talion, seorang ranger dari Gondor yang menuntut balas atas kematian keluarganya. Talion yang berada dalam misi balas dendamnya tetap dirasuki oleh Celebrimbor – seorang Elf yang ternyata berkontribusi langsung pada terciptanya Ring of Powers yang dimiliki oleh para pemimpin Middle-earth yang kini bertekuk lutut di bawah kendali Sauron. Untuk memastikan mereka punya kesempatan melawan balik, Talion dan Celebrimbor memutuskan untuk menempa sebuah Ring of Power baru yang setara dengan milik Sauron, namun bebas dari pengaruh Dark Lord tersebut.



Namun di tengah proses tersebut, Celebrimbor tiba-tiba diculik oleh Shelob, seorang karakter wanita yang mampu berubah menjadi laba-laba raksasa. Memperlihatkan kekuatannya yang fenomenal, Shelob berhasil memeras Talion untuk menyerahkan Ring of Power baru tersebut untuk ditukarkan dengan “nyawa” Celebrimbor. Tuntutan yang diamini oleh Talion begitu saja. Dengan kekuatan baru tersebut, Shelob yang juga berseberangan dengan Sauron, menggunakannya untuk melihat ke masa depan. Melihat apa yang tengah direncanakan oleh Sauron, melihat takdir Talion yang sebenarnya, hingga mencegah skenario terburuk yang bisa terjadi pada manusia-manusia yang bertahan dari gempuran orc di Minas Ithil. Bagi Talion, penglihatan Shelob adalah “kunci” untuk mengalahkan Sauron.

Perjuangan untuk memastikan Sauron tak kembali mendapatkan kekuatannya tentu bukan pekerjaan yang mudah. Untuk memastikan diri berada dalam posisi yang seimbang, Talion juga mulai menggunakan kekuatan barunya untuk membangun pasukan Orc untuk melawan kembali Sauron. Dengan pengaruh Celebrimbor yang kini menyebut dirinya sebagai Bright Lord – lawan dari Dark Lord aka Sauron, perjalanan ini tentu tidak mudah. Karena tidak hanya Sauron, ada begitu banyak ancaman lain, baik dari para orc “pembangkang” yang bahkan berani membangunkan Balrog untuk mengkhianati Sauron hingga usaha untuk menyelamatkan pasukan-pasukan Gondor yang berakhir tertangkap

Jika diperhatikan, cerita dalam gameini tergolong sederhana. Penggemar seri The Lord of the Rings mungkin juga tidak akan menyukai premis cerita yang ditawarkan game ini karena terlalu lurus. Bahkan, mungkin yang bukan penggemar akan merasakan hal yang sama karena sederhananya cerita dalam game ini. Tapi, jangan khawatir. Karena kalau cerita bukan yang membuat game ini bersinar, maka gameplay dalam Shadow of Mordoryang akan bertindak.

Visualisasi yang "Biasa saja"

Di awal rilisnya, Shadow of Mordor memang terhitung cukup istimewa dari sisi presentasi visual di kala itu. Ada dua alasan utama: pertama karena ia jadi game modern pertama yang memotret pesona Mordor (semesta Lord of the Rings) dengan menggunakan performa platform generasi terkini, dan juga penampakan modifikasi perdana untuk versi Lithtech Engine yang digunakan oleh Monolith. Kesan pertama yang dihasilkan dari dua kombinasi hal ini membuat Shadow of Mordor di kala itu, terasa istimewa. Mengingat visualisasinya tak lebih dari sekedar pembaharuan dan penyempurnaan di sana-sini, hal yang sama, sayangnya tidak terasa di Shadow of War.
Kami tidak menyebutnya sebagai game dengan visualisasi yang buruk. Ia tetap sebuah game yang akan membuat Anda jatuh cinta, terutama lewat desain lingkungan yang kini jauh lebih bervariasi dibandingkan Shadow of Mordor. Bahwa tidak lagi terjebak pada dunia kelam yang dipenuhi lumpur di beragam sudut dengan penampakan Orc yang buruk, Shadow of War kini membagi dunianya ke dalam beberapa varian yang masing-masing punya temanya sendiri. Dari berpetualang dan berperan di Minas Ithil – sebuah kota besar dengan peradaban yang fantastis, hingga daerah bersalju atau hutan lebat yang masing-masing darinya, juga “dipersenjatai” dengan markas besar para Orc yang bisa Anda rebut. Setidaknya dari untuk urusan variasi, Shadow of War memastikan Anda bisa berpetualang dalam skala yang lebih beragam dan besar.
Namun untuk urusan detail, ia memang tidak terlihat istimewa. Siklus siang malam dan juga cuaca yang dinamis untungnya dipertahankan, walaupun tidak memberikan kontribusi yang signifikan dalam permainan. Efek dramatis juga mengalir lewat tata cahaya di beberapa sudut arena permainan yang membuat Anda berakhir menikmati pengalaman yang lebih sinematik. Namun di luar itu, Shadow of War tidak akan berakhir menjadi game yang akan Anda nikmati hanya untuk sekedar kualitas visualisasi yang ada saja. Setidaknya, ia masih tetap jadi cara modern terbaik untuk terjun masuk ke dalam semesta Lord of the Rings yang Anda kenal, walaupun Anda tidak akan berkesempatan untuk menjelajahinya secara bebas mengingat arena permainan yang ada dibagi per region.
Satu yang pasti, presentasi yang ia tawarkan memang setia dengan apa yang Anda harapkan dari sebuah game yang menjadikan “Lord of the Rings” sebagai basis. Para Orc dan Uruk-hai yang Anda temui di sepanjang perjalanan, apalagi dengan sistem Nemesis yang membuat mereka acak, selalu hadir dengan presentasi visual yang unik untuk memperkuat karateristik kepribadian mereka. Bahwa memang, para Uruk-hai yang Anda temui ini, istimewa dan berbeda satu sama lain. Ada yang penuh bekas luka, ada yang mengenakan sebuah helm dengan api berkobar seperti musuh Megaman, hingga yang hadir dengan detail wajah yang manusiawi. Mereka hadir dengan baris percakapan berbeda yang memang cocok dengan situasi yang Anda hadapi dan tentu saja, cukup untuk memperkuat identitas mereka. Ada yang punya aksen keras, ada yang hadir dengan kecenderungan homoseksualitas yang memperlihatkan ketertarikan pada Anda, hingga yang sekedar tuna wicara. Orc dan Uruk-hai ini memang jadi daya tarik tersendiri untuk Shadow of War.
Anda yang senang menangkap beragam screenshot indah juga akan termanjakan dengan Photo Mode miliknya yang tepat sasaran. Dengan sudut dan gerak kamera yang tidak dibatasi, Anda bisa menciptakan beragam momen yang Anda inginkan dengan fitur yang ditawarkan. Kerennya lagi? Tidak seperti filter Photo Mode game lain pada umumnya, ada beragam efek keren yang bisa Anda aplikasikan di sini, yang salah satunya, bahkan membuatnya bisa berakhir menjadi buku mewarnai dengan detail yang pantas diacungi jempol.
Dunia lebih luas dan beragam, varian Orc dan Uruk-hai yang punya identitas lebih kuat, serta efek tata cahaya yang berhasil membuat beberapa sudut permainan menjadi lebih dramatis, presentasi dan daya tarik Shadow of War memang tidak didasarkan hanya pada sekedar detail tekstur dan sejenisnya. Ia lebih mengandalkan kepadatan dan kekuatan konten di dalamnya.


Pengembangan Assassin's Creed dan Batman : Arkham Series yang Lebih Epik

Shadow of Mordor memiliki gameplay campuran seri Batman: Arkham dan Assassin’s Creed. Saya rasa itu adalah penjelasan yang paling konkrit yang bisa saya sampaikan untuk game ini. Kamu bisa bertempur menggunakan sistem pertempuran yang persis seperti dalam seri Batman: Arkham dan menemukan beberapa menara yang bertindak sebagai checkpoint dalam map seperti layaknya melakukan synchronization dalam Assassin’s Creed.


Secara garis besar, pengalaman bermain yang Anda dapatkan di Shadow of War akan terasa mirip dengan apa yang temukan di Shadow of Mordor. Yang berbeda? Alih-alih hanya satu tempat saja, Anda kini akan singgah di beragam tempat berbeda yang masing-masing di dalamnya, tentu akan mengusung varian Orc / Uruk-hai berbeda dari ragam klan, yang masing-masing hadir dengan senjata, tunggangan, dan kelebihan-kelemahan mereka masing-masing. Untuk sistem pertarungan, ia tetap mempertahankan sistem ala Batman Arkham yang memungkinkan Anda menyerang dan melakukan counter-attack secara instan, jika memang dibutuhkan. Tentu saja, strategi ini tidak selamanya efektif. Ada jenis Orc, seperti yang menggunakan tameng misalnya, yang tidak akan bisa Anda serang secara frontal dan butuh melakukan vault untuk membuka pertahanan mereka. Atau yang tipe Berserker dengan dua senjata di tangan yang juga butuh strategi berbeda untuk ditundukkan.
Berita baiknya? Monolith tidak lantas jatuh pada omong kosong cerita untuk menghapus kekuatan Talion dari sebelumnya. Anda tetap akan berperan sebagai Talion yang sudah “matang” dari seri pertama yang tentu saja, mulai menguasai kemampuan yang ditawarkan oleh Celebrimbor. Sebagai gantinya? Monolith membuat kemampuan-kemampuan “super” ini menjadi lebih efektif lagi. Contohnya seperti kemampuan mobilitas lebih efektif berkat kemampuan double-jump milik Talion yang memungkinkannya untuk mencapai area lebih jauh, atau sekedar kemampuan melompat saat memanjat yang memungkinkannya untuk sampai di puncak dengan jauh lebih efektif. Dengan berbasiskan experience points sebagai reward dan sistem level, Anda juga akan mendapatkan skill points untuk dialokasikan di beragam kategori skill untuk membuat Talion semakin ditakuti oleh pasukan Sauron.
Lantas, dengan lebih banyak area baru yang ditawarkan, bagaimana sistem quest bekerja? Seperti halnya formula yang sepertinya sudah diterapkan oleh begitu banyak game open-world yang lain, Anda hanya perlu “mengerjakan” beragam icon yang Anda temukan di peta. Ada icon yang akan bergerak mendorong cerita utama, ada misi sampingan yang bisa Anda selesaikan dengan garis cerita solid dan reward super menggoda, dan ada beragam misi collectibles yang meminta Anda mencari dan menemukan beragam objek yang juga dibarengi dengan penghargaan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Misi-misi ini sendiri bersifat lintas area. Ini berarti, terkadang ada misi sampingan yang baru bisa berlanjut setelah Anda membuka area baru selanjutnya. Sementara setiap darinya juga akan memuat tantangan tersendiri.
Selain berbagai kemampuan Talion yang lebih baik, salah satu fitur baru super keren yang  membuat Shadow of War terasa semakin epik adalah kemampuannya untuk menunggangi Drake. Seperti makhluk lainnya, di awal, naga dengan napas api ini akan terus menyerang Anda secara membabi buta. Menyerang mereka dengan panah dan pedang (jika berhasil membuatnya mendarat) hingga jatuh ke status Broken akan memungkinkan Anda untuk menungganginya secara bebas. Drake tidak hanya memungkinkan Anda bergerak cepat dari satu area ke area selanjutnya, tetapi juga punya kemampuan napas api dan serangan proyektil masif yang tentu saja, dengan mudah, akan membuat para Uruk-hai dan Orc kalang kabut. Kerennya lagi? Jika Anda berhasil menyelesaikan salah satu side quest yang ada, Anda akan berkesempatan untuk memanggilnya, kapanpun dan dimanapun.
Namun tentu saja, pada akhirnya seperti halnya Shadow of Mordor, pengalaman Shadow of War juga akan difokuskan pada pertempuran Anda melawan para “Captain” Uruk-hai yang juga mengimplementasikan sistem Nemesis yang serupa di dalamnya. Bertarung menundukkan mereka atau sekedar menyerap mereka menjadi pasukan yang bisa Anda kendalikan (yang akan kita bahas nanti) memang jadi intisari pengalaman yang ada.
Kerennya lagi? Mereka berhasil menyempurnakan sistem yang sudah terhitung cukup baik di Shadow of Mordor, setidaknya di tingkat kesulitan normal. Para Captain ini punya kemampuan beradaptasi yang lebih cepat dan efektif terhadap jenis serangan Anda. Jadi, walaupun masing-masing mereka punya kelemahan yang bisa dieksploitasi, menggunakan strategi serangan yang sama terus-menerus akan membuatnya berakhir tidak efektif. Sebagai contoh? Jika Anda terus menyerang Captain dengan tameng misalnya, dengan melakukan vault dan menyerang mereka dari belakang. Jika hanya gerakan ini saja yang Anda lakukan, si Captain akan belajar, beradaptasi, dan mendorong Anda setiap kali Anda melakukan vault, memaksa Anda untuk mencari strategi yang lain. Fantastis!

Perbedaan dengan Shadow of Mordor

Berbeda dengan Shadow of Mordor, yang terasa seperti perjalanan personal Talion untuk balas dendam, Shadow of War seperti namanya adalah usaha Talion untuk bukan lagi sekedar menundukkan Sauron, tetapi menguasai Mordor. Maka oleh karena itu, menjadi sesuatu yang esensial baginya untuk membangun pasukan Orc dan Uruk Hai miliknya sendiri.
Maka sistem inilah yang jadi kekuatan utama Shadow of War, sekaligus menciptakan sensasi permainan dalam skala yang lebih luas. Kemampuan untuk mendominasi dan menjadikan Uruk-hai yang lain sebagai companion Anda memang sudah ditawarkan di seri pertama. Namun kali ini, mereka mengimplementasikan sistem lebih besar dan kompleks untuk membuatnya menjadi lebih penting dari aspek gameplay. Bahwa tidak lagi sekedar untuk bersenang-senang, Anda bisa melakukannya untuk membuat progress permainan Anda lebih mudah.
Menguasai Fortress adalah konsep “perang” yang dikobarkan oleh Shadow of War. Bahwa untuk memastikan Anda bisa menguasai setiap area yang ada, Anda harus membangun pasukan Uruk-Hai Anda terlebih dahulu. Para Captain ini bisa Anda bunuh untuk reward tertentu, atau bisa Anda tarik masuk ke dalam jajaran pasukan Anda untuk berperang atas nama Anda. Kerennya lagi? Anda bisa mengatur dan menginstruksikan beragam perintah berbeda untuk setiap dari mereka. Anda bisa meminta mereka jadi bodyguard Anda, yang akan membantu Anda berperang ketika dipanggil, meminta mereka untuk latihan untuk memperkuat pasukan / menaikkan level mereka, hingga memerintahkannya untuk menyerang Captain yang masih setia dengan Sauron dan menghabisinya. Untuk Captain yang punya hubungan khusus, Anda bisa meminta mereka melakukan Infiltrasi secara diam-diam ke dalam.
Satu yang menarik, adalah fakta bahwa Nemesis System yang menjadi kekuatan utama Shadow of Mordor juga diaplikasikan lebih luas di Shadow of War ini. Bahwa cerita tidak lagi sekedar dibangun antara Talion dan para Uruk-hai lawannya, sistem yang serupa kini juga diaplikasikan antara pasukan Anda dan pasukan Sauron. Walaupun tidak diperintahkan secara aktif, Anda akan bisa menemukan konflik ini secara aktif terjadi. Kerennya lagi? Setiap kali persinggungan tercipta, baik antara sesama pasukan lawan atau antara pasukan Anda melawan pasukan lawan, sebuah icon misi sampingan akan otomatis tercipta di peta. Anda bisa sekedar melewatkan waktu dan membiarkan konflik ini mencapai resolusinya sendiri. Tetapi Anda juga bisa secara aktif ikut terlibat, membantu pasukan Anda untuk selamat. Karena kemenangan, bisa berakhir dengan peningkatan level Captain bawahan Anda utnuk membuatnya lebih kuat.

Ending yang Sangat Buruk 

Pernakah Anda memainkan sebuah game yang menyenangkan dari awal hingga hampir akhir, dan justru dihadapkan pada desain gameplay super tolol yang mengubah pengalaman Anda ini 180 derajat? Percaya atau tidak, hal itulah yang terjadi dengan Shadow of War. Satu hal yang juga membuat kami cukup mengerti mengapa ada ketakutan dan kecenderungan menyebutnya sebagai mode yang diciptakan untuk mendorong penjualan Lootbox. Karena sejauh permainan kami, ini memang jadi bagian paling mengecewakan.
Apa yang terjadi? Setelah Anda menyelesaikan garis cerita utama yang ada, Anda akan terjun masuk ke dalam mode baru bernama “The Shadow Wars” yang berfungsi sebagai chapter terpisah. Inti permainan ini? Anda akan diminta untuk mempertahankan Fortress Anda setidaknya 10 kali di beragam region yang ada, melawan pasukan Sauron yang akan semakin kuat dan ganas setiap kali berhasil ditundukkan. Ini berarti, Anda akan bertemu dengan tidak hanya jumlah pasukan yang lebih tinggi dari segi kuantitas, tetapi juga “dipersenjatai” dengan Captain-Captain dengan level yang lebih tinggi. 10 kali bertahan, 10 kali melawan pasukan Sauron yang semakin kuat dari satu region ke region lainnya. Reward yang bisa Anda petik? True ending untuk Shadow of War dan kesimpulan cerita untuk Talion itu sendiri. Maka kasus yang terjadi pada Batman: Arkham Knight, dimana Anda harus menyelesaikan semua puzzle milik Riddler untuk membuka cut-scene terakhir, kembali terjadi di sini.
Lantas, mengapa tolol? Karena mode yang satu ini, meminta Anda melakukan proses grinding habis-habisan hingga pada batas, membeli lootbox dengan uang nyata pun, tidak akan banyak membantu Anda. Karena ingat, pasukan Sauron yang akan menyerang Anda di end-game ini akan punya level tinggi, di antara 35-55. Ketika pertama kali bertahan, Anda akan berhadapan dengan fakta bahwa hampir sebagian besar Captain yang bisa Anda rekrut di satu area, ternyata tidak mengalami perubahan level sama sekali. Ini berarti, ketika berusaha bertahan di region awal misalnya, Anda masih harus berkutat dan hanya bisa “menangkap” Captain dengan level 15-20. Berita buruknya? Perbedaan level signifikan seperti ini akan membuat markas Anda cepat runtuh, bahkan jika Anda sudah mengaplikasikan sistem pertahanan terbaik sekalipun.

Sekarang Anda punya bayangan kenapa End-Game ini berakhir begitu grindy, repetitif, dan tidak menyenangkan. Benar sekali, untuk mempertahankan markas Anda 10 kali di beragam region, ini berarti Anda harus melakukan proses perekrutan kembali dari awal dengan menggunakan satu di antara dua metode tersebut. Mengingat bahwa sistem pertahanan Fortress bisa dikepalai setidaknya tujuh Captain dengan efek berbeda, maka Anda harus mempersiapkan setidaknya tujuh Captain. Ingat, gelombang ini selalu lebih kuat ketika dikalahkan. Jadi ketika kota yang sama diserang untuk kedua kalinya, Captain “baru” Anda yang sebelumnya berada di level 35 dan mampu menundukkan gelombang level 35, berakhir tidak lagi relevan untuk gelombang selanjutnya, karena ia kini harus berhadapan dengan gelombang level 42. Lalu? Ya, Anda harus membuatnya lebih kuat lagi


Kebodohan desain yang ditawarkan Monolith di End-Game sepertinya memang diracik untuk satu hal – menghasilkan data “indah” bahwa banyak gamer di luar sana berakhir menghabiskan waktu “menikmati” Shadow of War dengan jumlah jam gameplay yang menakjubkan. Menyebutnya diracik untuk menjual lootbox juga tidak beralasan, mengingat limitasi terbesar yang harus Anda hadapi sebenarnya adalah proses grinding level Talion untuk memperkuat pasukan Captain yang Anda miliki. Sesuatu yang tidak bisa kami toleransi. Terima kasih pada Youtube yang membuat kami tak perlu melewati proses sampah ini untuk hanya melihat true ending yang ada



Conclusion

Akhir kata, Middle-Earth: Shadow of Mordor adalah sebuah action RPG yang lebih mengutamakan aksi dibandingkan elemen cerita. Game ini berhasil membedakan dirinya dengan game lain menggunakan Nemesis System yang sangat menarik. Meskipun tidak memiliki cerita yang terlalu dalam untuk diikuti, gameplay Shadow of War yang epik walaupun end-gamenya repetitif dan membosankan.







Share:

Services

Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts

BTemplates.com

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support