Monday, 16 April 2018

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar




Sejak rilis awalnya sebagai game pengganti seri Prince of Persia di tahun 2008 lalu, Assassin's Creed tumbuh menjadi salah satu franchise yang paling berpengaruh di era game next-gen saat ini. Walaupun banyak gamer yang tidak bisa menerimanya dengan baik di awal, tapi daya tarik baru yang dihadirkannya berhasil menuntun kepopuleran franchise ini.

Seri Assassin's Creed sendiri menceritakan kisah dari beberapa figur seorang pembunuh yang dijuluki Assassin. Misi dari Assassin sendiri adalah untuk menjatuhkan kekuasaan Templar yang menyebar di seluruh dunia. Walaupun kamu bermain sebagai seorang pembunuh, tapi Assassin dalam game ini memiliki motif yang baik demi menjatuhkan upaya keji dari kekuasaan para Templar.

Latar dunia dan karakter juga dihadirkan dalam bentuk memori yang disimpan dalam Animus dan terus turun dari generasi ke generasi. Beberapa seri gamenya juga menghadirkan latar belakang sejarah dan karakter yang memang asli diadaptasi dari dunia nyata. Kamu bahkan juga bisa sedikit belajar sejarah dalam game ini, yang memang merupakan kelebihan terbesar dari franchise ini.


Tapi seiring berjalannya waktu, Ubisoft mulai kehilangan sentuhannya dalam membuat sebuah game Assassin's Creed yang solid.Penyempurnaan mekanik yang dimulai dari seri kedua, cerita dan karakterisasi yang fantastis lewat jalinan cerita Ezio, dan segudang misteri yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikannya sebagai judul yang selalu diantisipasi. Namun keputusan untuk merilisnya sebagai game rilis tahunan memang jadi bumerang yang fatal. Di awal implementasi kebijakan ini, Assassin’s Creed masih terlihat memesona. Namun seiring dengan waktu berjalan, apalagi dengan keharusan untuk menawarkan setting dan timeline sejarah yang berbeda, ia mulai kehilangan daya tarik di beberapa seri terakhir. Untuk mengatasi hal ini, Ubisoft akhirnya memutuskan untuk menambah waktu produksi game selanjutnya yang akhirnya sekarang telah dirilis dengan judul Assassin's Creed Origins.

Sinopsis



Seperti yang sebagian besar kita tahu, Assassin’s Creed Origins memang menjadikan peradaban Mesir sebagai setting utama, dengan beberapa karakter ikonik seperti Cleopatra dan Julius Caesar sebagai motor pendorong cerita. Namun jika harus melihat timeline di sisi historis dunia nyata, menyebut mereka sebagai peradaban “klasik” sepertinya sedikit keliru. Yang dieksplorasi oleh Origins justru adalah peradaban lebih “modern” Mesir dimana beragam pencapaian dilakukan oleh Firaun masa lampau. Mesir sendiri saat ini sudah menjadi ruang peleburan antara beragam bangsa, terutama Yunani dan Romawi.


Anda berperan sebagai seorang pejuang bernama Bayek. Sebuah tragedi menimpanya dan mendorong Bayek untuk menjalankan sebuah misi balas dendam. Anaknya yang ia cintai berakhir tewas di tangan sebuah organisasi rahasia dengan manusia-manusia bertopeng bernama “The Order”. Setiap dari anggota The Order ini datang dengan nama sandi binatang dan identitas yang dirahasiakan. Bayek mulai menyelusuri siapa saja mereka dengan keinginan untuk mencabut nyawa setiap dari mereka. Ia juga dibantu oleh sang istri tercinta – Aya yang kini berdiri di bawah kepimpinan Cleopatra – seorang putri kerajaan yang tahtanya direbut oleh Firaun bernama Ptolemy.

Namun usaha untuk menghancurkan The Order ini justru membuka mata Bayek soal seberapa serius pengaruh mereka di Mesir. Bahwa tidak hanya satu atau dua orang saja, organisasi ini ternyata bermuatkan begitu banyak orang penting yang punya satu misi jelas – menguasai dan mengendalikan Mesir dari belakang layar. Hingga pada tahap, mereka mampu memanipulasi begitu banyak hal untuk menjadikan Ptolemy sebagai Firaun yang justru membuat rakyat Mesir kian sengsara. Sementara di sisi yang lain, Bayek juga harus menjalankan tugasnya sebagai seorang Medjay – seorang pelindung rakyat super bijak yang diandalkan untuk menyelesaikan ragam masalah personal dan sosial yang ada. Misi balas dendam ini berujung menjadi lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan

Gameplay


Ini dia yang menjadi salah satu perubahan terbesar dari Origins. Jika kamu memainkan semua seri Assassin's Creed sebelumnya, beradaptasi dengan gameplay dalam game ini akan cukup sulit dan memakan waktu. Kontrol karakter dan sistem combat benar-benar dirubah, dan memiliki kemiripan dengan seri Dark Souls.

Kamu harus mengunci target dan menghindari serangan sebelum melakukan counter attack, kamu juga bisa berlindung dan melancarkan serangan balasan lewat shield breaker. Walaupun cukup unik, tapi sistem combat-nya menjadi lebih kaku dan kurang fleksibel dibandingkan seri pendahulunya.

Sistem parkour yang menjadi simbol dari franchise ini sayangnya malah terasa semakin kaku. Sejak awal permainan kamu juga tidak bisa melakukan gerakan parkour turun yang lebih cepat. Tapi dengan berbagai macam variasi skill yang kamu pelajari, sistem gameplay dan parkour secara keseluruhan akan terasa semakin kompleks dan berbeda.

Visualisasi

Jika ada satu hal yang tidak pernah gagal dilakukan oleh Assassin’s Creed selama ini adalah membangun sebuah dunia dengan atmosfer yang tepat dan pantas untuk merepresentasikan timeline yang ada. Hal yang sama juga terjadi di Origins. Sebagai sebuah wilayah gurun dengan padang pasir yang dominan, Anda akan menikmati Mesir masa lampau dengan kapasitas yang optimal. Kemampuan Ubisoft untuk meracik dan mereka ulang hidup klasik ini dalam format visual platform generasi saat ini meamng pantas diacungi jempol. Kita tidak sekedar berbicara soal hal teknis seperti tekstur atau efek tata cahaya dramatis yang menyempurnakan hal itu. Namun bagaimana ia mampu meracik sebuah peradaban yang terasa realistis di atasnya.

Walaupun kami tidak punya pengetahuan mendalam soal kehidupan Mesir masa lampau, namun Anda akan bisa melihat keseriusan Ubisoft untuk membangun sebuah dunia yang sepantasnya dari peradaban yang indah ini. Anda bisa melihat bagaimana kota dan desa tumbuh di sekitar Sungai Nil – yang memang jadi sumber kehidupan di tengah gurun. Setiap kota ini hadir dengan arsitektur khasnya sendiri, dari sekedar perkumpulan rumah kecil dengan bentuk unik hingga bangunan megah yang berisikan beragam simbol hingga patung dewa-dewi Mesir dalam ukuran yang masif. Namun di sisi lain, Anda juga akan menemukan wilayah lain yang hidup dari mata pencaharian berbeda. Petani gandum di satu sisi, petani garam di sisi yang lain, dan mereka yang hidup sebagai peracik mumi untuk mereka yang meninggal.

Satu hal yang fantastis dari dunia yang diracik Ubisoft ini adalah keberhasilan untuk tetap membangunnya tidak terpisah dari nilai mistis yang ada, seperti yang seharusnya. Bahwa di peradaban masa lampau dimana tidak ada penjelasan sains untuk banyak fenomena, agama dan kepercayaan memang dilihat sebagai solusi. Di Origins, elemen in ditawarkan apa adanya, menyatu dengan kehidupan masyarakat Mesir itu sendiri. Bayek sendiri misalnya, adalah Medjay yang percaya pada pengaruh dewa-dewi Mesir pada nilai-nilai kehidupan, dari sekedar kesejahteraan hingga keadilan. Bahwa pengaruh mistis tersebut tidak lagi memunculkan beragam upacara religi, tetapi juga meracik sudut pandang untuk beragam masalah yang terjadi sekaligus solusi. Berhadapannya memang membuat Anda seolah terserap ke dalam Mesir masa lampau yang seharusnya.

Desain kota adalah salah satu bagian terbaik dari Assassin’s Creed Origins. Bahwa jelas Ubisoft memang punya data untuk meracik kota-kota yang ada dalam kapasitas yang seharusnya, dan bukan sekedar menerka dan menciptakan sebuah imitasi yang tidak banyak berbeda satu sama lain. Anda bisa bertemu dengan kota seperti Siwa misalnya, terasa seperti kota “standar” yang kecil. Tetapi di sisi lain, ada kota-kota lain seperti Alexandria yang jelas dibangun dengan kebudayaan Romawi sebagai pondasi. Kota-kota yang tinggal di samping Sungai Nil juga punya karakteristik spesifik yang berbeda. Beberapa berfokus mendirikan pelabuhan dengan kota yang mengitarinya, namun ada kota seperti Memphis misalnya yang mengintegrasikan Nil justru di tengah kota, membuat masyarakat yang berpergian harus melewati arusnya yang dangkal untuk bergerak dari sudut ke sudut yang lain. Setiap kota juga punya pendekatan mistis mereka sendiri, dari yang menyembah Dewa Buaya – Sobek hingga yang menyembah banteng yang disucikan. Dunia yang dibangun Ubisoft di Origins benar-benar mengagumkan.

Lalu kita akan berhadapan dengan dunia yang memang serasa punya denyut jantung, dengan masyarakat yang dinamis. Perubahan siang dan malam yang ada memang akan mempengaruhi banyak hal, terutama dari hal kecil seperti keramaian di dalam kota hingga yang lebih besar – seperti perilaku AI penjaga di sebuah markas yang hendak Anda “bereskan”. Seperti halnya padang gurun di dunia nyata, Anda juga akan bertemu dengan badai pasir yang hadir acak, yang akan membuat Anda punya sudut pandang terbatas sekaligus tidak mampu menggunakan Senu, burung andalan untuk proses scouting. Kerennya lagi? Anda terkadang bisa melihat badai pasir ini datang dari kejauhan.

Kesimpulan
Waktu istirahat satu tahun yang ditawarkan Ubisoft untuk tim di balik seri Black Flag ini berhasil menghasilkan sebuah seri Assassin’s Creed yang siap untuk membuat Anda jatuh cinta kembali. Mesir dibangun dengan begitu indah, unik, dan berbeda, menggabungkan tidak hanya padang pasir dan Sungai Nil, tetapi juga peradaban yang terbangun dengan air jernih tersebut sebagai sumber kehidupan. Dunia super luasnya juga kini diisi dengan desain misi sampingan yang lebih baik dengan segudang aktivitas untuk diselesaikan atas nama reward yang menggoda. Bayek dan Aya juga berhasil tampil sebagai karakter yang menarik dan dalam, membuatnya pantas untuk menyandang predikat sebagai sumber dari organisasi Assassin itu sendiri.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir sempurna. Selain fakta bahwa game bisa berakhir terlalu mudah jika level Anda terlalu tinggi atau misi sampingan yang terasa repetitif, kami juga mempertanyakan pacing cerita yang cukup “berantakan” di akhir. Ketika cerita dibangun pelan soal The Order di jam-jam awal permainan yang meminta Anda menyusuri luasnya Mesir, ia justru berakhir diselesaikan dalam format lebih linear yang langsung membuka Anda begitu banyak jawaban misteri, solusi, dan ragam misi untuk menyelesaikannya begitu saja. Hasilnya adalah sebuah cerita yang cukup terasa anti-klimaks di akhir, dan gagal menawarkan sesuatu yang terasa menakjubkan, bertolak belakang dengan cerita-cerita di awal yang penuh dengan rasa amarah, rapuh, dan balas dendam.

Namun di luar kelemahan tersebut, Assassin’s Creed Origins adalah sebuah game Assassin’s Creed yang fantastis, sebuah seri yang cukup untuk membuat Anda yang sempat skeptis untuk jatuh cinta kembali. Jika kualitas seperti ini yang terus ditawarkan di seri-seri masa depan, maka bukan tak mungkin franchise “tahunan” Ubisoft ini akan menemukan masa keemasannya kembali.

System Requirements


Sumber:


Share:

0 comments:

Post a Comment

Services

Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts

BTemplates.com

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support