• Middle-Earth Shadow of War

    Jatuhkan Kekuasaan Sauron The Dark Lord dengan membangun kerajaan bersama Bright Lord yang perkasa.

  • Asus Vivobook A44UR-GA031

    Laptop baru besutan Asus dengan body slim namun spesifikasi yang gahar.

  • Asus X550IK

    Laptop Asus gaming jaman now dengan body yang elegan dan spesifikasi yang sangat baik untuk para gamers pemula

  • Assassin Creed Origins

    Babak baru seri permainan legenaris dengan grafis memukau dan gameplay yang seru serta cerita epik

  • God of War 2018

    Petualangan baru Kratos di negeri dewa-dewi nordik

Friday, 20 April 2018

God of War, Petualangan Baru Kratos

God of War,  Petualangan Baru Kratos Menghadapi Dewa-Dewi Nordik


Gamer mana yang tidak pernah mendengar atau mengenal God of War. Game yang dirilis pertama kali pada 2005 ini merajalela Playstation 2, franchise game action yang satu ini memang tumbuh menjadi judul ikonik dengan kualitas yang tidak perlu lagi diragukan. Ketika sebagian game gagal mewujudkan mitologi klasik yang keren ke dalam sebuah cerita epik yang memuaskan, Sony Santa Monica melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Tidak mengherankan jika antisipasi terhadap seri terbarunya begitu kuat.

Sebagai karakter sentral yang telah menghipnotis jutaan gamer di seluruh dunia lewat aksi kerennya dalam menghabisi musuh kuat hingga tingkatan dewa sekalipun, Kratos terus menjadi bahan utama bagi developer Sony Santa Monica untuk menyampaikan jalan cerita dari universe God of War yang sesungguhnya. Inilah salah satu alasan kenapa pihak developer tidak memberikannya perkiraan usia dan menjelaskan kalau dia sudah melalui banyak sekali petualangan epik yang meniggalkan kisah berkesan

Setelah melihat kisah balas dendam melawan ayahnya Zeus di God of War 3, franchise ini akhirnya memasuki masa vakum selama beberapa tahun. Sony Santa Monica resmi mengumumkan seri terbarunya yang hanya berjudul God of War di ajang E3 2016. Berbeda dari ketiga seri sebelumnya, kali ini hampir semua konsep yang ditawarkannya benar-benar dirubah total. Mulai dari tema mitologi Norse, gameplay third person action yang lebih strategis, hingga sosok Kratos yang terlihat jauh lebih tua dan memiliki anak bernama Atreus.

Sony Santa Monica memang menempuh begitu banyak perubahan beresiko dengannya, dari sisi cerita, mitologi, gameplay, hingga sistem kamera. Sebagai gamer yang sempat skeptis di awal, kami menyambut ragam perubahan ini dengan tangan terbuka. Bahwa apa yang ditawarkan Sony Santa Monica di sini bukanlah sekedar usaha untuk merevitalisasi sebuah franchise yang secara mengejutkan, punya kesempatan untuk hidup kembali, tetapi melanjutkan kisah seorang karakter ikonik . Dan sejauh ini, ia mengagumkan.

Sinopsis

God of War terbaru ini bukanlah sebuah seri reboot, melainkan sebuah sekuel langsung dari God of War 3. Kita masih berhadapan dengan sosok Kratos yang selama ini kita kenal, namun mulai menjalani hidup yang berbeda. Ia hidup di Skandinavia, berdiri di bawah mitologi Norse, bersama dengan sebuah keluarga yang bahagia. Namun sayangnya, tragedi sepertinya tidak bisa lepas dari sosok Kratos.

Ia dibuka dengan sebuah fakta yang menyedihkan, bahwa Kratos telah kehilangan istri yang ia cintai, dan Atreus kini tidak lagi punya sosok ibu. Mempersiapkan pemakamannya dengan melalui proses kremasi, wanita yang mereka cintai punya satu permintaan terakhir – untuk menabur abunya di puncak tertinggi Norse. Sebuah perjalanan yang tentu saja, tidak mudah.

Kratos terlebih dahulu harus melatih Atreus yang walaupun sudah memiliki kemampuan berburu dari sang ibu, namun belum cukup tanggap soal ancaman seperti apa yang menunggu mereka. Masih kecil dan tidak stabil, Atreus masih perlu banyak belajar. Kratos pada awalnya melihat bahwa ia harus memberikan waktu lama bagi Atreus untuk tumbuh. Namun situasi tersebut langsung berubah, ketika seorang pria misterius mengetuk pintu mereka. Dari sanalah Kratos tahu dan paham akan satu hal – bahwa tidak ada lagi momen yang lebih tepat untuk memenuhi permintaan istrinya sekaligus memastikan Atreus selamat.

Gameplay
Perubahan terbesar adalah mekanisme gameplaynya. Walaupun terkesan lebih lambat dan membuat Kratos terlihat lemah, ternyata momen dimana dia dapat membantai pasukan musuh dengan brutal justru berhasil dipresentasikan dengan lebih baik di game ini. Tidak lagi menggunakan Blades of Chaos, kali ini Leviathan Axe adalah senjata andalan Kratos yang baru. Menariknya, pergantian senjata ini sama sekali tidak mempengaruhi gaya bertarungnya. Kratos masih dapat melancarkan serangan brutal dan kombo yang dapat menghancurkan pasukan musuh, yang kali ini dapat menjangkau jarak jauh sekalipun berkat kemampuan Leviathan Axe yang dapat dilempar dan dipanggil kembali ke tangan Kratos kapan saja.

Untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, Kratos juga dibekali dengan Guardian Shield yang dapat digunakan sebagai senjata untuk mengalahkan musuh dengan elemen es (tidak bisa dilukai dengan Leviathan Axe karena memiliki elemen yang sama). Sekuat apapun Kratos, dia ternyata masih membutuhkan bantuan Atreus dalam melakukan berbagai tugas penting seperti melemahkan pertahanan musuh, menerjemahkan artifak dan teka-teki yang menggunakan bahasa nordik, serta membuka jalan yang tidak bisa dijangkau oleh Kratos. Seiring berjalannya permainan, kamu akan menyadari kalau Atreus adalah karakter yang bisa diandalkan dan sama sekali tidak menjadi beban seperti yang ditakutkan para fans.

Setiap kali berhadapan dengan pertempuran, kamu harus selalu berfokus untuk melancarkan serangan paling efektif dan memperhatikan pergerakan musuh sekaligus memperhatikan darah. Saat berhadapan dengan pasukan musuh yang kuat dan Kratos mendapatkan ancaman dari berbagai arah, selain memperhatikan indikator panah kamu bisa mendengarkan peringatan dari Atreus mengetahui letak posisi musuh. Sedikit terbawa suasana dan kurang memperhatikan strategi saja akan berakhir dengan gugurnya Kratos, karena selain memiliki pertahanan yang lebih lemah, item untuk memulihkan HP juga terbatas dan hanya bisa didapat dengan memecahkan healing stone. Saat berada dalam situasi terdesak, kamu bisa menggunakan kemampuan Spartan Rage yang membuat Kratos menjadi jauh lebih kuat dan dapat menghancurkan musuh apapun hanya dengan tangan kosong yang membara. Spartan Rage baru dapat digunakan setelah Rage Meter yang berwarna merah terisi penuh.


Setiap kali berhadapan dengan pertempuran, kamu harus selalu berfokus untuk melancarkan serangan paling efektif dan memperhatikan pergerakan musuh. Saat berhadapan dengan pasukan musuh yang kuat dan Kratos mendapatkan ancaman dari berbagai arah, selain memperhatikan indikator panah kamu bisa mendengarkan peringatan dari Atreus mengetahui letak posisi musuh. Sedikit terbawa suasana dan kurang memperhatikan strategi saja akan berakhir dengan gugurnya Kratos, karena selain memiliki pertahanan yang lebih lemah, item untuk memulihkan HP juga terbatas dan hanya bisa didapat dengan memecahkan healing stone. Saat berada dalam situasi terdesak, kamu bisa menggunakan kemampuan Spartan Rage yang membuat Kratos menjadi jauh lebih kuat dan dapat menghancurkan musuh apapun hanya dengan tangan kosong yang membara. Spartan Rage baru dapat digunakan setelah Rage Meter yang berwarna merah terisi penuh.

Sesuai dengan janji Sony Santa Monica, sistem Skill Tree dalam game ini benar-benar lebih kompleks dan memberikan segudang opsi dalam menentukan gaya bermain. Untuk Kratos, dia harus meningkatkan level Leviathan Axe terlebih dahulu sebelum dapat membuka skill baru dengan mengunjungi Blacksmith bernama Brok, atau bisa juga menggunakan bantuan dari saudara kembarnya yang bernama Sindri. Skill tambahan juga bisa didapat dengan menamamkan Runic Stone ke dalam Leviathan Axe. Stone yang bisa kamu dapatkan setelah mengalahkan boss ini juga hadir dengan tiga status boost berbeda (Damage, Frost, Stun), kamu hanya perlu memilih mana yang sekiranya paling efektif. Skill tambahan juga bisa diberikan untuk Atreus, dimana dia bisa menggunakan serangan berskala besar yang memiliki kemampuan untuk memanggil hewan spirit seperti serigala, falcon, gagak, dan lainnya.

Visualisasi

Kualitas grafis yang dimiliki God of War ini sangatlah apik, pencahayaan yang dinamis dan environment yang realistis merupakan poin andalan dari game anyar ini. Dapat dikatakan bahwa God of War dapat memanfaatkan segala potensi yang dimiliki oleh Playstation 4 dan PC untuk membentuk dunia mitologi nordik yang realistis dan hidup. saat pertama kali memainkan game ini, anda akan tekagum-kagum oleh grafiknya yang sangat menyerupai dunia nyata

Kesimpulan 

Game ini merupakan game generasi terbaru yang menghadirkan kualitas grafis yang luar biasa diimbangi dengan gameplay yang tidak akan membuat kalian bosan walaupun bermain selama beberapa jam dikarenakan story dan gameplaynya yang sangat memikat.


System Requirements


Share:

Monday, 16 April 2018

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar

Assassin's Creed Origins, Jelajahi Era Mesir Kuno dan Hentikan Bencana Besar




Sejak rilis awalnya sebagai game pengganti seri Prince of Persia di tahun 2008 lalu, Assassin's Creed tumbuh menjadi salah satu franchise yang paling berpengaruh di era game next-gen saat ini. Walaupun banyak gamer yang tidak bisa menerimanya dengan baik di awal, tapi daya tarik baru yang dihadirkannya berhasil menuntun kepopuleran franchise ini.

Seri Assassin's Creed sendiri menceritakan kisah dari beberapa figur seorang pembunuh yang dijuluki Assassin. Misi dari Assassin sendiri adalah untuk menjatuhkan kekuasaan Templar yang menyebar di seluruh dunia. Walaupun kamu bermain sebagai seorang pembunuh, tapi Assassin dalam game ini memiliki motif yang baik demi menjatuhkan upaya keji dari kekuasaan para Templar.

Latar dunia dan karakter juga dihadirkan dalam bentuk memori yang disimpan dalam Animus dan terus turun dari generasi ke generasi. Beberapa seri gamenya juga menghadirkan latar belakang sejarah dan karakter yang memang asli diadaptasi dari dunia nyata. Kamu bahkan juga bisa sedikit belajar sejarah dalam game ini, yang memang merupakan kelebihan terbesar dari franchise ini.


Tapi seiring berjalannya waktu, Ubisoft mulai kehilangan sentuhannya dalam membuat sebuah game Assassin's Creed yang solid.Penyempurnaan mekanik yang dimulai dari seri kedua, cerita dan karakterisasi yang fantastis lewat jalinan cerita Ezio, dan segudang misteri yang menunggu untuk dieksplorasi menjadikannya sebagai judul yang selalu diantisipasi. Namun keputusan untuk merilisnya sebagai game rilis tahunan memang jadi bumerang yang fatal. Di awal implementasi kebijakan ini, Assassin’s Creed masih terlihat memesona. Namun seiring dengan waktu berjalan, apalagi dengan keharusan untuk menawarkan setting dan timeline sejarah yang berbeda, ia mulai kehilangan daya tarik di beberapa seri terakhir. Untuk mengatasi hal ini, Ubisoft akhirnya memutuskan untuk menambah waktu produksi game selanjutnya yang akhirnya sekarang telah dirilis dengan judul Assassin's Creed Origins.

Sinopsis



Seperti yang sebagian besar kita tahu, Assassin’s Creed Origins memang menjadikan peradaban Mesir sebagai setting utama, dengan beberapa karakter ikonik seperti Cleopatra dan Julius Caesar sebagai motor pendorong cerita. Namun jika harus melihat timeline di sisi historis dunia nyata, menyebut mereka sebagai peradaban “klasik” sepertinya sedikit keliru. Yang dieksplorasi oleh Origins justru adalah peradaban lebih “modern” Mesir dimana beragam pencapaian dilakukan oleh Firaun masa lampau. Mesir sendiri saat ini sudah menjadi ruang peleburan antara beragam bangsa, terutama Yunani dan Romawi.


Anda berperan sebagai seorang pejuang bernama Bayek. Sebuah tragedi menimpanya dan mendorong Bayek untuk menjalankan sebuah misi balas dendam. Anaknya yang ia cintai berakhir tewas di tangan sebuah organisasi rahasia dengan manusia-manusia bertopeng bernama “The Order”. Setiap dari anggota The Order ini datang dengan nama sandi binatang dan identitas yang dirahasiakan. Bayek mulai menyelusuri siapa saja mereka dengan keinginan untuk mencabut nyawa setiap dari mereka. Ia juga dibantu oleh sang istri tercinta – Aya yang kini berdiri di bawah kepimpinan Cleopatra – seorang putri kerajaan yang tahtanya direbut oleh Firaun bernama Ptolemy.

Namun usaha untuk menghancurkan The Order ini justru membuka mata Bayek soal seberapa serius pengaruh mereka di Mesir. Bahwa tidak hanya satu atau dua orang saja, organisasi ini ternyata bermuatkan begitu banyak orang penting yang punya satu misi jelas – menguasai dan mengendalikan Mesir dari belakang layar. Hingga pada tahap, mereka mampu memanipulasi begitu banyak hal untuk menjadikan Ptolemy sebagai Firaun yang justru membuat rakyat Mesir kian sengsara. Sementara di sisi yang lain, Bayek juga harus menjalankan tugasnya sebagai seorang Medjay – seorang pelindung rakyat super bijak yang diandalkan untuk menyelesaikan ragam masalah personal dan sosial yang ada. Misi balas dendam ini berujung menjadi lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan

Gameplay


Ini dia yang menjadi salah satu perubahan terbesar dari Origins. Jika kamu memainkan semua seri Assassin's Creed sebelumnya, beradaptasi dengan gameplay dalam game ini akan cukup sulit dan memakan waktu. Kontrol karakter dan sistem combat benar-benar dirubah, dan memiliki kemiripan dengan seri Dark Souls.

Kamu harus mengunci target dan menghindari serangan sebelum melakukan counter attack, kamu juga bisa berlindung dan melancarkan serangan balasan lewat shield breaker. Walaupun cukup unik, tapi sistem combat-nya menjadi lebih kaku dan kurang fleksibel dibandingkan seri pendahulunya.

Sistem parkour yang menjadi simbol dari franchise ini sayangnya malah terasa semakin kaku. Sejak awal permainan kamu juga tidak bisa melakukan gerakan parkour turun yang lebih cepat. Tapi dengan berbagai macam variasi skill yang kamu pelajari, sistem gameplay dan parkour secara keseluruhan akan terasa semakin kompleks dan berbeda.

Visualisasi

Jika ada satu hal yang tidak pernah gagal dilakukan oleh Assassin’s Creed selama ini adalah membangun sebuah dunia dengan atmosfer yang tepat dan pantas untuk merepresentasikan timeline yang ada. Hal yang sama juga terjadi di Origins. Sebagai sebuah wilayah gurun dengan padang pasir yang dominan, Anda akan menikmati Mesir masa lampau dengan kapasitas yang optimal. Kemampuan Ubisoft untuk meracik dan mereka ulang hidup klasik ini dalam format visual platform generasi saat ini meamng pantas diacungi jempol. Kita tidak sekedar berbicara soal hal teknis seperti tekstur atau efek tata cahaya dramatis yang menyempurnakan hal itu. Namun bagaimana ia mampu meracik sebuah peradaban yang terasa realistis di atasnya.

Walaupun kami tidak punya pengetahuan mendalam soal kehidupan Mesir masa lampau, namun Anda akan bisa melihat keseriusan Ubisoft untuk membangun sebuah dunia yang sepantasnya dari peradaban yang indah ini. Anda bisa melihat bagaimana kota dan desa tumbuh di sekitar Sungai Nil – yang memang jadi sumber kehidupan di tengah gurun. Setiap kota ini hadir dengan arsitektur khasnya sendiri, dari sekedar perkumpulan rumah kecil dengan bentuk unik hingga bangunan megah yang berisikan beragam simbol hingga patung dewa-dewi Mesir dalam ukuran yang masif. Namun di sisi lain, Anda juga akan menemukan wilayah lain yang hidup dari mata pencaharian berbeda. Petani gandum di satu sisi, petani garam di sisi yang lain, dan mereka yang hidup sebagai peracik mumi untuk mereka yang meninggal.

Satu hal yang fantastis dari dunia yang diracik Ubisoft ini adalah keberhasilan untuk tetap membangunnya tidak terpisah dari nilai mistis yang ada, seperti yang seharusnya. Bahwa di peradaban masa lampau dimana tidak ada penjelasan sains untuk banyak fenomena, agama dan kepercayaan memang dilihat sebagai solusi. Di Origins, elemen in ditawarkan apa adanya, menyatu dengan kehidupan masyarakat Mesir itu sendiri. Bayek sendiri misalnya, adalah Medjay yang percaya pada pengaruh dewa-dewi Mesir pada nilai-nilai kehidupan, dari sekedar kesejahteraan hingga keadilan. Bahwa pengaruh mistis tersebut tidak lagi memunculkan beragam upacara religi, tetapi juga meracik sudut pandang untuk beragam masalah yang terjadi sekaligus solusi. Berhadapannya memang membuat Anda seolah terserap ke dalam Mesir masa lampau yang seharusnya.

Desain kota adalah salah satu bagian terbaik dari Assassin’s Creed Origins. Bahwa jelas Ubisoft memang punya data untuk meracik kota-kota yang ada dalam kapasitas yang seharusnya, dan bukan sekedar menerka dan menciptakan sebuah imitasi yang tidak banyak berbeda satu sama lain. Anda bisa bertemu dengan kota seperti Siwa misalnya, terasa seperti kota “standar” yang kecil. Tetapi di sisi lain, ada kota-kota lain seperti Alexandria yang jelas dibangun dengan kebudayaan Romawi sebagai pondasi. Kota-kota yang tinggal di samping Sungai Nil juga punya karakteristik spesifik yang berbeda. Beberapa berfokus mendirikan pelabuhan dengan kota yang mengitarinya, namun ada kota seperti Memphis misalnya yang mengintegrasikan Nil justru di tengah kota, membuat masyarakat yang berpergian harus melewati arusnya yang dangkal untuk bergerak dari sudut ke sudut yang lain. Setiap kota juga punya pendekatan mistis mereka sendiri, dari yang menyembah Dewa Buaya – Sobek hingga yang menyembah banteng yang disucikan. Dunia yang dibangun Ubisoft di Origins benar-benar mengagumkan.

Lalu kita akan berhadapan dengan dunia yang memang serasa punya denyut jantung, dengan masyarakat yang dinamis. Perubahan siang dan malam yang ada memang akan mempengaruhi banyak hal, terutama dari hal kecil seperti keramaian di dalam kota hingga yang lebih besar – seperti perilaku AI penjaga di sebuah markas yang hendak Anda “bereskan”. Seperti halnya padang gurun di dunia nyata, Anda juga akan bertemu dengan badai pasir yang hadir acak, yang akan membuat Anda punya sudut pandang terbatas sekaligus tidak mampu menggunakan Senu, burung andalan untuk proses scouting. Kerennya lagi? Anda terkadang bisa melihat badai pasir ini datang dari kejauhan.

Kesimpulan
Waktu istirahat satu tahun yang ditawarkan Ubisoft untuk tim di balik seri Black Flag ini berhasil menghasilkan sebuah seri Assassin’s Creed yang siap untuk membuat Anda jatuh cinta kembali. Mesir dibangun dengan begitu indah, unik, dan berbeda, menggabungkan tidak hanya padang pasir dan Sungai Nil, tetapi juga peradaban yang terbangun dengan air jernih tersebut sebagai sumber kehidupan. Dunia super luasnya juga kini diisi dengan desain misi sampingan yang lebih baik dengan segudang aktivitas untuk diselesaikan atas nama reward yang menggoda. Bayek dan Aya juga berhasil tampil sebagai karakter yang menarik dan dalam, membuatnya pantas untuk menyandang predikat sebagai sumber dari organisasi Assassin itu sendiri.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir sempurna. Selain fakta bahwa game bisa berakhir terlalu mudah jika level Anda terlalu tinggi atau misi sampingan yang terasa repetitif, kami juga mempertanyakan pacing cerita yang cukup “berantakan” di akhir. Ketika cerita dibangun pelan soal The Order di jam-jam awal permainan yang meminta Anda menyusuri luasnya Mesir, ia justru berakhir diselesaikan dalam format lebih linear yang langsung membuka Anda begitu banyak jawaban misteri, solusi, dan ragam misi untuk menyelesaikannya begitu saja. Hasilnya adalah sebuah cerita yang cukup terasa anti-klimaks di akhir, dan gagal menawarkan sesuatu yang terasa menakjubkan, bertolak belakang dengan cerita-cerita di awal yang penuh dengan rasa amarah, rapuh, dan balas dendam.

Namun di luar kelemahan tersebut, Assassin’s Creed Origins adalah sebuah game Assassin’s Creed yang fantastis, sebuah seri yang cukup untuk membuat Anda yang sempat skeptis untuk jatuh cinta kembali. Jika kualitas seperti ini yang terus ditawarkan di seri-seri masa depan, maka bukan tak mungkin franchise “tahunan” Ubisoft ini akan menemukan masa keemasannya kembali.

System Requirements


Sumber:


Share:

Services

Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Elegant Themes

Advertisement

Popular Posts

BTemplates.com

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support